Penduduk
Kota Padang menyebut bukti kecil yang menjorok ke laut persis di muara sungai
itu Gunung Padang. Ketinggian bukit hanya sekitar 200 meter dari permukaan
laut, tidak pantas disebut gunung. Sejak zaman kolonial, bukti tersebut juga
berfungsi sebagai areal perkuburan masyarakat yang tinggal di sekitar muara
sungai hingga ditutup 1990-an, setelah ada larangan dari Pemerintah Kota
Padang. Kini Gunung Padang diyakini banyak orang sebagai tempat berkuburnya
Sitti Nurbaya, tokoh cerita novel karya Marah Rusli.
Keyakinan
semakin meluas setelah cerita novel itu ditayangkan dalam bentuk sinetron di
penghujung abad ke-20 lalu. Bahkan, sebuah jembatan megah, yang dibangun di
awal tahun 2000-an menghubungkan kedua sisi sungai yang juga berfungsi sebagai
pelabuhan itu, diberi nama Jembatan Sitti Nurbaya. Kedengaran aneh, kalau
selama ini nama-nama suatu tempat yang dianggap monumental diberi nama tokoh
pejuang/pahlawan.
Selain tokoh fiksi yang pertama kali hadir di dalam novel Sitti Nurbaya yang ditulis oleh sastrawan Marah Rusli asal Padang, adakah tokoh lain dalam sejarah hingga nama Sitti Nurbaya begitu melegenda hampir di setiap pikiran masyarakat Kota Padang dan sekitarnya, bahkan masyarakat Nusantara?
Barangkali,
tidak ada tokoh fiksi lain dalam kesusastraan Indonesia modern yang mampu
menyaingi kepopuleran Sitti Nurbaya. Tokoh ini telah menjadi mitos yang
diyakini oleh masyarakatnya sebagai tokoh yang pernah hidup.
Menurut
Barthes (1981), mitos bukanlah suatu konsep atau gagasan, melainkan suatu
lambang dalam bentuk wacana. Mitos adalah suatu sistem komunikasi yang
memberikan pesan berkenaan dengan aturan masa lalu, ide, ingatan dan kenangan,
atau keputusan-keputusan yang diyakini.
Ditegaskan lagi, mitos bukanlah benda, tetapi dapat dilambangkan dengan benda. Sebagai aturan-aturan masa lalu yang diyakini masyarakat terhadap mitos Sitti Nurbaya antara lain tergambar dalam ungkapan bahwa sekarang bukan zamannya Sitti Nurbaya lagi, tak ada orangtua yang menjual putrinya kepada rentenir tua untuk menutup utang. Sementara, sebagai lambang, jembatan dan kuburan itu, telah melambangkan keberadaan Sitti Nurbaya di masa lalu secara semiotik.
Mitos
Bila diingat bahwa novel Sitti Nurbaya adalah hasil karya sastra tulis yang ditulis oleh sastrawan Marah Rusli pada abad lalu, kini telah menjadi mitos, maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah kedudukan cerita MalinKundang yang merupakan karya sastra lisan yang anonim dapat sejajar dengan Sitti Nurbaya? Bukanlah Malin Kundang lahir di tengah masyarakat yang belum mengenal tradisi sastra tulis?
Masyarakat Minangkabau di masa lalu hidup dengan tradisi sastra lisan, antara lain sangat mengenal cerita-cerita lisan yang disebut kaba. Selain disampaikan kepada penikmatnya melalui lisan, kaba-kaba yang hidup di tengah masyarakat pada masa itu juga disampaikan melalui seni pertunjukkan, seperti teater tradisional randai, atau diiringi musik suleung (alat musik tiup dari bambu), dan sebagainya.
Memang, zaman sekarang sudah hampir semua kaba yang hidup di masa lalu itu sudah ditulis orang dengan berbagai versi, baik yang masih mempertahankan bentuknya yang prosa liris, maupun yang sudah berupa prosa, tak terkecuali kaba Malin Kundang.
Menurut Umar Junus dalam bukunya Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau (1984), kaba Malin Kundang masa kini hanya menyisakan nilai-nilai edukatif saja bahwa kelakuan Malin Kundang tak pantas ditiru. Padahal, menurutnya, mungkin ada nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam kaba “aslinya” dulu oleh pencipta yang tak pernah akan diketahui, tetapi telah hilang akibat kelisanannya itu.
Tentu saja sulit membuktikan ada-tidaknya nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam sebuah kaba yang tidak tertulis, di tengah masyarakat yang tidak mempunyai tradisi membaca karena tidak memiliki aksara.
Adakah masyarakat Kota Padang dan sekitarnya yang menjadi latar cerita tersebut membaca novel Sitti Nurbaya saat ini? Atau setidaknya, adakah generasi mudanya membaca novel tersebut sewaktu duduk di bangku SMP atau SMA meski telah mengalami cetak ulang lebih dari dua puluh kali sejak pertama terbit 1922? Ternyata tidak.
Ditegaskan lagi, mitos bukanlah benda, tetapi dapat dilambangkan dengan benda. Sebagai aturan-aturan masa lalu yang diyakini masyarakat terhadap mitos Sitti Nurbaya antara lain tergambar dalam ungkapan bahwa sekarang bukan zamannya Sitti Nurbaya lagi, tak ada orangtua yang menjual putrinya kepada rentenir tua untuk menutup utang. Sementara, sebagai lambang, jembatan dan kuburan itu, telah melambangkan keberadaan Sitti Nurbaya di masa lalu secara semiotik.
Mitos
Bila diingat bahwa novel Sitti Nurbaya adalah hasil karya sastra tulis yang ditulis oleh sastrawan Marah Rusli pada abad lalu, kini telah menjadi mitos, maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah kedudukan cerita MalinKundang yang merupakan karya sastra lisan yang anonim dapat sejajar dengan Sitti Nurbaya? Bukanlah Malin Kundang lahir di tengah masyarakat yang belum mengenal tradisi sastra tulis?
Masyarakat Minangkabau di masa lalu hidup dengan tradisi sastra lisan, antara lain sangat mengenal cerita-cerita lisan yang disebut kaba. Selain disampaikan kepada penikmatnya melalui lisan, kaba-kaba yang hidup di tengah masyarakat pada masa itu juga disampaikan melalui seni pertunjukkan, seperti teater tradisional randai, atau diiringi musik suleung (alat musik tiup dari bambu), dan sebagainya.
Memang, zaman sekarang sudah hampir semua kaba yang hidup di masa lalu itu sudah ditulis orang dengan berbagai versi, baik yang masih mempertahankan bentuknya yang prosa liris, maupun yang sudah berupa prosa, tak terkecuali kaba Malin Kundang.
Menurut Umar Junus dalam bukunya Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau (1984), kaba Malin Kundang masa kini hanya menyisakan nilai-nilai edukatif saja bahwa kelakuan Malin Kundang tak pantas ditiru. Padahal, menurutnya, mungkin ada nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam kaba “aslinya” dulu oleh pencipta yang tak pernah akan diketahui, tetapi telah hilang akibat kelisanannya itu.
Tentu saja sulit membuktikan ada-tidaknya nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam sebuah kaba yang tidak tertulis, di tengah masyarakat yang tidak mempunyai tradisi membaca karena tidak memiliki aksara.
Adakah masyarakat Kota Padang dan sekitarnya yang menjadi latar cerita tersebut membaca novel Sitti Nurbaya saat ini? Atau setidaknya, adakah generasi mudanya membaca novel tersebut sewaktu duduk di bangku SMP atau SMA meski telah mengalami cetak ulang lebih dari dua puluh kali sejak pertama terbit 1922? Ternyata tidak.
Hal
itu terungkap ketika di tahun 2006 dibagikan sejumlah angket untuk tiga kelas
mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP, yaitu dua kelas program
studi Pendidikan dan Sastra Indonesia dan satu kelas program studi Sastra
Indonesia, dan tidak seorang pun yang membaca novel Sitti Nubaya.
Namun, semua mahasiswa mengenal tokoh Sitti Nurbaya dan esensi cerita novel itu. Mereka juga tahu bahwa “kuburan” Sitti Nurbaya terletak di Gunung Padang. Mereka mengaku mengenal Sitti Nurabaya melalui sinetron dan beberapa orang melalui sipnosis cerita.
Namun, semua mahasiswa mengenal tokoh Sitti Nurbaya dan esensi cerita novel itu. Mereka juga tahu bahwa “kuburan” Sitti Nurbaya terletak di Gunung Padang. Mereka mengaku mengenal Sitti Nurabaya melalui sinetron dan beberapa orang melalui sipnosis cerita.
Hal
serupa juga bisa dianalogikan dengan kasus Romeo
and Juliet karya drama Shakespeare yang telah terlanjur menjadi mitos
dunia. Namun, sangat sedikit orang yang membaca karya sastra itu sekarang, itu
pun untuk kepentingan kajian sastra. Generasi muda Indonesia hanya tahu bahwa Romoe and Juliet adalah kisah cinta yang
tragis, tak lebih dan tak kurang.
Dengan
demikian, apa yang disinyalir Umar Junus memang benar, bahwa sastra lisan pada
akhirnya hanya tersisa nilai-nilai edukatifnya saja, tanpa mengenal nilai-nilai
filosofis dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam karya sastra itu.
Dengan kata lain Sitti Nurbaya dan Romeo and Juliet telah terdegradasi oleh
kelisanan masyarakat penikmatnya.
Tidak
salah kalau sebagian besar mahasiswa menjawab bahwa Sitti Nurbaya adalah tokoh
masa lalu yang menjadi korban kawin paksa, sementara tokoh Datuk Maringgih
adalah tokoh jahat yang kikir, doyan wanita muda, dan telah menjebak ayah Sitti
Nurabaya dengan meminjamkan uang banyak hingga tak terbayarkan, kecuali dengan
menyerahkan Sitti Nurabaya sebagai istrinya yang keempat.
Betulkah
tokoh Sitti Nurbaya dipaksa ayahnya menikah dengan Datuk Maringgih? Betulkah
Datuk Maringgih tokoh jahat?
Stereotip
itu ternyata telah menjadi mitos dan melekat di alam pikiran masyarakat yang
tidak membaca novel tersebut. Dalam hal ini tidak berbeda dengan pemahaman
masyarakat terhadap kaba Malin Kundang yang bukan produk sastra tulis modern.
Padahal,
di dalam novel, tokoh Sitti Nurbaya tidaklah dipaksa ayahnya menikah dengan
lelaki tua itu, melainkan mengambil inisiatif untuk meringankan beban
orangtuanya. Demikian juga halnya Datuk Maringgih, ia adalah tokoh pejuang yang
melawan kesewenang-wenangan Pemerintah Kolonial Belanda dengan ikut berperang
hingga tewas di tangan serdadu “Belanda Melayu” Syamsulbahri yang dulunya
kekasih Sitti Nurbaya.
Dari semua itu, terindikasi bahwa telah terjadi degradasi nilai terhadap karya sastra modern, Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, karya Marah Rusli yang terbit pertama kali pada tahun 1922. Di sisi lain karya tersebut merupakan novel modern Indonesia terpopuler hingga kini, bahkan tokoh-tokoh ceritanya telah menjadi mitos. Itu berarti bahwa masyarakat Indonesia masih dekat dengan tradisi lisan dan masih jauh dari masyarakat gemar membaca.
Dari semua itu, terindikasi bahwa telah terjadi degradasi nilai terhadap karya sastra modern, Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, karya Marah Rusli yang terbit pertama kali pada tahun 1922. Di sisi lain karya tersebut merupakan novel modern Indonesia terpopuler hingga kini, bahkan tokoh-tokoh ceritanya telah menjadi mitos. Itu berarti bahwa masyarakat Indonesia masih dekat dengan tradisi lisan dan masih jauh dari masyarakat gemar membaca.
Sumber tulisan: Harian Kompas
Sumber gambar: http://www.tutorialto.com/wp-content/uploads/2012/03/Naskah-Drama-Siti-Nurbaya.jpg
terimakasih.
BalasHapusmobilio
bagus banget terimakasih kontennya.
BalasHapus