Laman

Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

02 Mei 2015

Sejarah Onderwijs (Pengajaran) Kolonial

STOVIA (Sekolah Kedokteran) Batavia (1899-1920)
(Foto: http://bimbimblues.blogspot.com)
Jika kita hendak membicarakan soal pengajaran (onderwijs) di Tanah Air kita ini—di suatu negeri yang terjajah—kita harus mengadakan perbedaan dan perbandingan antara pengajaran di suatu negeri yang merdeka dan yang tak merdeka. Pengajaran kolonial berlainan sekali dengan pengajaran di negeri-negeri yang merdeka, di mana pengajaran semata-mata dipergunakan untuk kemajuan tanah air dan bangsanya. Di negeri yang merdeka, soal onderwijs mendapat perhatian yang penuh dari pemerintah; dan Belanda sendiri di tahun 1900 mengadakan undang-undang yang dinamai “Leerplichswet” (undang-undang wajib belajar), yang memaksa orang-orang di sana untuk bersekolah. Orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya, akan didenda.

20 April 2015

Perintis Perjoangan Nasionalisme Asia-Afrika adalah Republik Proklamasi Kita

Suasana Konferensi Asia-Afrika tahun 1955
Foto: kaskus

“Seluruh dunia kini telah mengakui satu kekuatan nyata dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan. Untuk itu, setelah Perang Dunia ke-II, Nasionalisme Asia-Afrika menuntut adanya masyarakat-baru, lepas dari semua bentuk Kolonialisme dan Imperialisme Internasional.”

Nasionalisme Dalam Abad ke-20
Menarik sekali pidato yang disampaikan Presiden Soekarno dalam Majelis Umum PBB, dimana beliau menyampaikan peranan nasionalisme dalam abad ke-20, bahwa ahli filsafat termasyur Inggris, Betrand Russel telah ‘mewartakan’ sebuah aliran utama di dunia, selain Declaration of Independence dan Manifesto Komunis, ialah Nasionalisme Indonesia yang terkenal dengan julukan filsafat-nasional Pantja Sila.

04 Januari 2015

Kebudayaan Kita Hari Ini



Foto: kompasiana.com

Secara umum, kita belum berkepribadian dalam budaya. Kita merasakan problem serius dalam persoalan kebudayaan, terutama karena neoliberalisme ini, yang memaksa kita jadi masyarakat konsumtif, disibukkan bagaimana cara agar kulit kita tidak berminyak dan tampak putih. Memuja kebendaan, bukan sebagai fungsi, tapi gengsi, terus mengkonsumsi, gak punya uang bisa ngutang (baca: kredit), seperti maunya kapitalis demi akumulasi modal.

11 Maret 2014

Supersemar: Kudeta Merangkak MPRS

Oleh Asvi Warman Adam (Sejarawan, Peneliti Utama LIPI)


Dua versi isi Surat Perintah 11 Maret 1966
Ada berbagai cara melihat dan menganalisis Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Salah satunya dengan menggunakan teori "kudeta merangkak". Kudeta merangkak adalah rangkaian kegiatan untuk mengambil kursi kepresidenan secara bertahap sejak 1 Oktober 1965 sampai 1966 (keluarnya Supersemar) atau 1967 (pejabat presiden) atau 1968 (menjadi presiden).

Pandangan ini merupakan analisis post factum yang dikeluarkan setelah peristiwa itu terjadi. Dengan melihat rangkaian kejadian tersebut, ditarik kesimpulan. Jadi, bukanlah sesuatu yang direncanakan secara mendetail dari awal sampai akhir.

02 Oktober 2013

Gerakan 30 September

PKI Tidak Terlibat
Lambang Partai Komunis Indonesia
Di depan wartawan Tempo bertanggal 16 April 2000, Latief, pelaku sekaligus kunci dalam Gerakan 30 September menjelaskan bahwa, ide menghadapkan para Jenderal (Yani dkk.) adalah dari inisiatif kami (Latief, Untung, Soepardjo, dan Soeyono), bukan ide dari PKI; tidak benar kami diperintah PKI; jika ada informasi bahwa kami diperintah PKI itu adalah informasi yang dibuat Soeharto untuk menutupi tindakannya. Pendapat ini dapat diterima oleh akal sehat, karena program Partai Komunis untuk berkuasa pada umumnya adalah revolusi, seperti yang dilakukan di Rusia, China, Cuba, dll., bukan melalui kup. Khusus di Indonesia, program PKI adalah mencapai demokrasi rakyat melalui jalan demokratis dan parlementer seperti yang ditetapkan pada Kongres Nasionak Ke V tahun 1954. Di samping itu kecil sekali kemungkinannya PKI melakukan kup terhadap Presiden Soekarno, karena Presiden Soekarno menjamin hak hidup PKI dengan konsep NASAKOM.

07 Oktober 2012

Haji Merah Dari Kauman

Jangan Jadi “Islam Lamisan”
H. Misbach
dalam Medan Moeslimin
      “Misbach seperti harimau di dalam kalangannya binatang-binatang kecil. Dia tidak takut mencela kelakuan orang-orang yang mengaku Islam tetapi selalu menghisap darah teman sendiri,” salut Mas Marco Kartodikromo mengenang sahabatnya itu.
      Misbach memang eksentrik, sama seperti Marco. Mereka berdua sudah sehati semenjak paruh pertama abad pergerakan nasional.
      Sewaktu Marco mendirikan Inlandsche JournalistenBond (IJB), serikat wartawan pertama di Indonesia, pada awal 1914, Misbach dengan penuh kesadaran segera bergabung sebagai angkatan pertama. Simak penuturan Marco mengenai hal ini:

16 September 2012

Genjer-genjer dan Stigmatisasi Komunis

Genjer-genjer mlebu kendil wedange gemulak
Setengah mateng dientas yong dienggo iwak
Sego nong piring sambel jeruk ring ngaben
Genjer-genjer dipangan musuhe sego
Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

10 Februari 2012

Sastra Indonesia dalam Skenario Imperialisme

Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu. Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian gagasan nasionalisme humanis dari seorang Soekarno. 

19 Januari 2012

Ideologi

Pengertian Ideologi
Tata Nilai, Impian dan Cita-cita
Secara etimologi (sejarah kata), ideologi berasal dari kata idea=pikiran, dan logos=ilmu. Secara tertulis, ideologi berarti studi tentang gagasan, pengetahuan kolektif, pemahaman-pemahaman, pendapat-pendapat, nilai-nilai, prakonsepsi-prakonsepsi, pengalaman-pengalaman, dan atau ingatan tentang informasi sebuah kebudayaan dan juga rakyat individual. Filsuf Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1754-1836), yang pertama kali menciptakan istilah "Ideologi" pada 1796, mendefinisikan ideologi sebagai "ilmu tentang pikiran manusia (sama seperti biologi dan zoologi yang merupakan ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukkan jalan yang benar menuju masa depan."

04 Mei 2011

Menyikapi Politik Buruh

Oleh: Surya Tjandra

"Sebuah pertemuan bersejarah kaum buruh Indonesia bertajuk ‘Trade Unions Meeting for Political Consensus’ dilaksanakan di Sukabumi, 23-25 November 2009"

Pertemuan ini digagas Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan diselenggarakan bersama dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Friedrich Ebert Stiftung Indonesia, dan the American Center for International Labor Solidarity, serta dihadiri oleh sekitar 50 aktivis dari sejumlah aktivis.

Seperti yang pernah diberitakan (Kompas, 23/11), pertemuan ini bertujuan membangun gerakan buruh yang

07 Januari 2011

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah

Kekerasan di Indonesia hanya dapat dialami dan dirasakan (akibatnya). Tetapi tidak untuk diungkap secara tuntas. Berita di koran hanya menyingkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Untuk kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal dengan "Peristiwa Malari", tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

03 Januari 2011

Kebudayaan Imperialis AS yang Harus Dijebol

Pidato Pramoedya Ananta Toer dalam acara resepsi penutupan sidang Pleno Lekra di Palembang. dimuat di Harian Rakjat, Minggu, 15 Maret 1964.

Para pembesar setempat dan kawan-kawan sekalian, ormas-ormas sekawan, dan simpatisan-simpatisan.
Apabila perhatian kita tujukan pada hiasan di samping kiri saya, dapat dibaca semboyan baru 'Jebol Kebudayaan Imperialis AS, Bangun Kebudayaan Nasional dengan Kobarkan Kebangkitan Tani.' Semboyan ini tidak lain dari garis baru yang merupakan sari keputusan Pleno PP Lekra di kota ini.

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya penjebolan kebudayaan imperialis Amerika Serikat dengan pembangunan kebudayaan nasional, dengan Kebangkitan Tani? Katak-katak yang begitu aktif di musim hujan ini pun, bila bisa membaca, segera akan mengerti, bahwa tanpa menjebol kebudayaan imperialisme Amerika Serikat, tidak mungkin kita membangun kebudayaan nasional, tidak mungkin kita mengobarkan kebangkitan tani. Jadi, di dalam

30 September 2010

Beberapa Pandangan tentang G 30 S/PKI

Oleh Asvi Warman Adam

Setelah era reformasi 1998, masyarakat Indonesia mengenal beberapa versi tentang dalang percobaan kudeta pada 1965. Pada masa Orde Baru, di sekolah hanya dikenal dan diajarkan versi tunggal bahwa PKI dalang peristiwa tersebut. Ini merupakan versi yang paling tua karena pembantu Soeharto seperti Yoga Sugama sejak 1 Oktober sudah menduga PKI di balik kudeta tersebut. Keyakinan itu sudah ada lebih dahulu walaupun upaya pembuktian baru dilakukan belakangan melalui Mahkamah Militer Luar Biasa.

16 Desember 2009

Skenario AS Musnahkan Nuklir Pakistan

Pakistan sebagai kekuatan nuklir di Asia Selatan sering menjadi sumber kecemasan berbagai pihak. Pasalnya, sejak berdiri tahun 1947, Pakistan memiliki tradisi politik dan keamanan yang labil.

Sempat muncul kekhawatiran yang sangat kuat selama ini bahwa senjata nuklir Pakistan bisa setiap saat jatuh ke tangan kelompok radikal yang kini sedang terlibat dalam perang terbuka dengan militer Pakistan di Waziristan, Lembah Swat, Provinsi Barat Laut (NWFP), bahkan di seantero negeri itu.

Akan tetapi, wawancara khusus pemimpin redaksi harian Pakistan, Al-Ummah, Shiren Mezari, dengan harian terkemuka Mesir, Al Ahram, beberapa pekan lalu mengungkapkan, bahaya sesungguhnya bukan datang dari kelompok radikal, tetapi justru dari Amerika Serikat.

22 April 2009

Sekilas tentang Neoliberalisme

*) dikutip dari Darmaningtyas dalam Tirani Kapital dalam Pendidikan-Menolak UU BHP

Neoliberalisme, yang juga dikenal sebagai paham ekonomi liberal, mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam penataan kegiatan ekonomi. Neoliberalisme bermula dari pandangan yang mengembangkan gagasan mengenai sistem ekonomi yang mencakup aturan tentang peran negara, modal dan pasar, dalam mekanisme pasar bebas. Tokoh-tokoh kunci neoliberalisme ini antara lain adalah Friedrich August von Hayek dan Milton Friedman. Menurut Friedman, murid von Hayek, kehidupan ekonomi masyarakat akan berlangsung dengan baik jika tanpa campur tangan apapun dari pemerintah. Ia menyatakan bahwa tingkat pengangguran masyarakat tidak seharusnya diatasi dengan campur tangan pemerintah, melainkan diserahkan saja kepada mekanisme pasar kerja yang bebas.1) Prinsipnya adalah

03 April 2009

Balada Negara Tak Bertuan

Oleh: Riswandha Imawan (guru besar Fisipol UGM Jogjakarta)

Saat para hulubalang memohon ke Sultan Iskandar (Aceh) agar membatalkan hukuman mati terhadap anaknya yang melakukan pelanggaran amat berat, Sultan justru berujar, "Matte aneuk meupat jeurat, gaadoh adat hana pat tamita." Maknanya, "Jika anak meninggal ada kuburannya, namun jika adat hilang, kemana hendak dicari."

Sultan Iskandar Muda tidak mengenal ajaran para filosof politik Eropa. Namun, pandangan dan sikapnya jelas sejalan dengan pemikiran para filosof itu, bahwa kesepakatan bersama (hukum, adat) harus ditegakkan bila kita tidak mau kehilangan arah melangkahkan kaki menuju ke tujuan akhir hidup bermasyarakat dan bernegara.

29 Maret 2009

Irasional Namun Efektif

Oleh: A Setyo Wibowo (Pengajar STF Driyarkara, Jakarta)

Kenalilah dirimu sendiri, itulah maksim Orakel Delphi dasar pencarian kebijakan Sokrates, bapak semua pencari kebijakan dalam kebajikan (Platon, Alkibiades 130E).

Jika para calon anggota legislatif menebarkan dengan sangat percaya diri foto mereka, apakah mereka benar-benar memperkenalkan diri mereka? Secara rasional sokratik, tentu tidak, tetapi pada kenyataannya, sepalsu apa pun imaji yang dibangun, itu bisa efektif! Pertaruhannya bagi kita adalah menyadari keanehan ini supaya demokrasi bisa kita langgengkan.

12 Maret 2009

Mengakhiri Kontroversi SUPERSEMAR

Oleh: Aswi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah

Sampai hari ini tampaknya kontroversi tentang Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966 tidak kunjung selesai. Kontroversi pertama, tentang proses penyusunan dan penyerahan surat tersebut yang terkesan tidak wajar. Surat tersebut dibuat bukanlah atas inisiatif dan kemauan Soekarno sendiri. Tahun 1998, anggota Tjakrabirawa Letnan Dua (purn) Soekardjo Wilardjito mengaku bahwa Jenderal Panggabean menodongkan pistolnya kepada Presiden Soekarno, dengan kata lain penugasan tersebut (baca: pengalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto) diberikan dalam keadaan terpaksa. Pada gilirannya, orang bisa menduga bahwa pada bulan Maret 1966 itu terjadi semacam kudeta.

28 Januari 2009

Menyelamatkan Masa Depan: Telaah Kritis Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Ekologis

Oleh: Maya Susiani, mahasiswi Manajemen FE Unej
"Dunia ini sanggup untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, namun tidak untuk kerakusannya." (Mahatma Gandhi)
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia tidak lepas dari "kutukan" sebagai negara bencana. Mulai dari banjir badang yang menimpa Kecamatan Panti, Jember, tanah longsor di berbagai daerah, lumpur Lapindo, sampai kasus banjir yang terjadi pada akhir Juli yang menimpa Monowali, Sulawesi Selatan, hingga menewaskan lebih dari 70 orang. Tidak terhitung lagi berapa banyak manusia yang menjadi korban. Juga kerugian materil dan psikis yang diderita korban.