14 Januari 2013

Sultan Baabullah Mengusir Portugis

Dinamika perjuangan para sultan/kolano penguasa rempah-rempah Maluku dapat diketahui lewat fakta sejarah nasional maupun internasional. Portugis dan Spanyol, dengan intimidasi dan teror selain monopoli perdagangan, juga berupaya memusnahkan rempah-rempah daerah itu. Dan yang terpenting dari semuanya mereka ingin mencengkeramkan kuku penjajahannya sebagai coquisyador (perampasan negeri). Yang lebih mengharukan lagi adalah "inkuisisi" yang menyedihkan terjadi bagi rakyat Maluku termasuk keluarga kerajaan. Dengan pedang terhunus bangsa Portugis berusaha menukar keyakinan agama Islam dengan agama Roma Katolik Eropa. Peristiwa ini merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Ratu Nukila memegang tampuk pemerintahan sekaligus memaklumkan perang terhadap bangsa Portugis karena telah terlihat mereka mulai mencampuri urusan istana.

Putra mahkota Deyalo (1522-1535) meninggal akibat diracun. Gobernador Goncales de Pereira (1530-1532) begitu pula Jongofa Boheyat ditawan Portugis. Tabaridji (1535-1537) naik tahta dan tetap mempertahankan wilayah serta jalur perniagaan tradisional seperti Bandar Ternate-Jawa-Aceh-Malaka. Tabaridji pun ditawan di Goa India dan dipaksa menandatangani kesetiaannya pada penguasa Iberia King Anfonso di Lisabon.

Sultan/Kolano Khairun Djamil Sjah naik tahta (1537-1570) dengan memimpin perang melawan Portugis. Putra Jongofa Baabullah menggalang persatuan dengan melakukan ekspedisi ke Makassar dan Kepulauan Nusa Tenggara. Yang menarik adalah kontrak tradisi dengan Kerajaan Aceh dan negara Demak seperti terjadi pada masa pembentukan imperium Islam Nusantara. Efisiensi lembaga ini terjadi kembali pada waktu terbunuhnya Sultan Khairun secara biadab oleh Gobernador Lopes de Mosquita tanggal 27 Februari 1570.

Gunung Gamalama di Ternate dengan benteng Portugis
Santo Johannes
Sumber: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ternate.JPG
Sultan Baabullah naik tahta menggantikan ayahnya Khairun dan kembali memimpin perang, setelah berhasil dalam konsolidasi persatuan. Kalaupun sebelumnya perang masih bersifat mempertahankan wilayah, maka kini perang telah berubah menjadi perang penjebolan atau perang pengusiran. Perang "soya-soya" atau perang negeri-negeri melawan Portugis ini dilakukan serentak di Kepulauan Nusantara. Baabullah memimpin perang menurut pola kesultanan asli Ternate, dimana Tomagola bertanggung jawab atas Ambon dan Seram; Omaitu atas Buton; Jougugu Doreru pada wilayah Halmahera, Sanger dan Sultan Jailolo, Katara Bumi sebagai koordinator handal di Sulawesi dan Kalimantan.

Dari Nusa Tenggara para sangaji berdatangan dengan armada perangnya yang dikenal dengan armada Gurap. Negara Demak pun mengirimkan laskar melalui armada Jepang yang dikenal itu. Kerajaan Aceh dengan armada maritime perkasa berkekuatan 30.000 kapal perang siap memblokir pertahanan Sumatera dan memblokade pengiriman bahan makanan dan amunisi Portugis lewat jalur India dan Selat Malaka. Aceh menampilkan srikandi laksamana Keumala Hayati (Malahayati) yang mengultimatumkan Portugis untuk berhadapan dengan armadanya melawan Portugis di Maluku.

Banjir darah terjadi di kepulauan rempah-rempah. Armada “kora-kora di lautan harus berhadapan dengan Halleon-galleon raksasa Portugis”. Di daratan semua yang berbau Portugis dihancurkan. Sultan Baabullah sebagai pimpinan perang di daratan sangat ditakuti lawannya, sedangkan di lautan dia dikenal sebagai laksamana perang yang handal. Dengan kharisma sebagai pemimpin, Baabullah telah menunjukkan keperkasaannya sebagai koordinator yang handal dari berbagai suku yang berbeda akar genealogis. Sultan Baabullah sendiri diakui dan telah dikukuhkan sebagai “khalifah emporium Islam Nusantara” oleh majelis sidang raja-raja yang bersekutu dengan Ternate di Kerajaan Gowa Makassar, dan tercatat kekuatan pasukannya mencapai 130.000 orang.

Satu persatu kota kebanggan Portugis jatuh. Santo Paolo diblokade siang malam. Di Bacan dan Ambon Portugis dihadang rakyat. Di Sanger terjadi huru hara dan meluas ke seluruh Sulawesi. Perang penjebolan ini berjalan penuh dengan satu semangat melawan penetrasi Eropa, membela kedaulatan wilayah, kedaulatan pelayaran, kedaulatan perairan dan perdagangan Nusantara.

Gerakan pembebasan “revolusi Ternate” dilaksanakan sebagai gerakan nativistik, yaitu suatu gerakan yang hendak mengembalikan situasi murni dan masa lampau yang tradisional; serta gerakan “mesianistik” yaitu gerakan atau upaya untuk menciptakan masa dengan yang adil, makmur dan sejahtera. Pasukan canga-canga yang terdiri dari laskar Halmahera bersenjatakan panah api beracun menaklukkan benteng Tolucco (berdiri 1540), begitu pula Santo Lucia, Santo Pedro jatuh satu persatu.

Sultan Baabullah mengultimatumkan bangsa Portugis, khususnya kepada Gobernador Nuno de Lacerda untuk menyerah dan menyerahkan pembunuh Khairun, yaitu de Mosquita yang melarikan diri ke Malaka. Tuntutan itu dipenuhi dan Mosquita yang melakukan tindakan kriminal dengan memakai tameng agama Katolik membuat bangsa Portugis harus dihina serta diusir dengan tragis meninggalkan Kepulauan Maluku selama-lamanya. Eskpedisi membawa hukuman dari Malaka ke Maluku ini dalam perjalanannya tiba di perairan Jawa. Laskar Demak langsung mengeksekusi seluruh rombongan ekspedisi tanpa terkecuali, karena Portugis adalah musuh Ternate yang otomatis adalah juga musuh utama negara Demak. Tanggal 28 Desember 1575 Gobernador Portugis Nuno de Lacerda mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah kepada Sultan Baabullah dan jatuhlah kota kebanggan Sen Horra del Rosario. Seluruh bangsa Portugis eksodus meninggalkan kawasan pulau rempah-rempah dan menuju ke ujung pulau Timor sebagai tempat interniran.

Sesuai hasil riset penulis pada wilayah Kepulauan Nusa Tenggara, Sultan Baabullah menempatkan perwakilan di sana antara lain Sangaji Bima, dan Sangaji Kore di Nusa Tenggara Barat; Sangaji Lawayong, Sangaji Lamakere, Sangaji Solor di Nusa Tenggara Timur. Tahun 1975 Timor-Timur berintegrasi ke Indonesia (400 tahun setelah Portugis diusir dari Ternate). Jika didasarkan historis dan stadrechterlijk Timor-Timur adalah bagian integral Indonesia. Sultan Baabullah dijuluki penguasa 72 negeri terbentang dari Filipina sampai Timor dan dari Sumatera sampai Irian.

Wawasan kebangsaan terpadu yang terbentuk setelah dibentuknya khalifah Barat Cordova jelasnya tidak mematuhi eksistensi “inter cartera” yang membagi dunia atas Spanyol dan Portugis. Tonggak sejarah bangsa Indonesia tercipta lewat tokoh sentral Sultan Baabullah sebagai lambang kebesaran budaya dan peradaban.

Pada kolonialis Belanda, Sultan Sahmardan (1754-1763) membantu Sultan Hasanudin dari Gowa menggempur Cornelis Speelman di Makassar yang kemudian melahirkan “Joungaya Agreement” (Perjanjian Raja-raja) 18 November 1667; bukan “Bongaya” seperti yang tertulis dalam buku sejarah Indonesia.

Kesultanan Tidore dipimpin Sultan/Kolano Nuku bangkit berperang dengan Belanda dan Inggris 1780-1805, ini merupakan gerakan pengembalian kejayaan Sultan Baabullah. Sultan Nuku berhasil memperkuat posisi di wilayah Pasifik yang dikenal dengan otonomi “Ngili Papua” dan otonomi “Ngulu” (kedaulatan atas negeri Papua dan negeri jauh). Nuku menempatkan Sangaji Raja Ampat, Sangaji Mafor, Sangaji Soa Raha, Sangaji Marauke di wilayah Papua. Nuku juga menguasai wilayah Mikronesia, kini di bawah “trust teritori” Amerika Serikat, begitu pula dengan kawasan Polinesia. Maka tak heran kalau beberapa pulau di wilayah itu bernama Nuku Alofa, Nuku Hiva, dan lain-lain.

Dari dasar historis ini, pembebasan Irian Barat dilakukan dan ibu kota Irian Barat pertama berpusat di Soa-Sio, Tidore. Sultan Tidore Zainal Abidin Sjah diangkat oleh Soekarno sebagai Gubernur pertama Irian pada waktu itu.

Sumber: Irza Arnyta Djafaar, Jejak Portugis di Maluku Utara. Cetakan Kedua, 2007.

2 komentar:

  1. Mungkin perlu liat timeline sejarah, sehingga konstruksifime dapat berjalan dengan baik.
    Pada paragraf 4 bagian akhir dikatakan "Sanger dan Sultan Jailolo, Katara Bumi sebagai koordinator handal di Sulawesi dan Kalimantan".

    Kolano Katarabumi tidak pernah diatur/di koordinasi oleh Babulah. Katarbumi berkuasa di Jailolo (1521-1534) dan menjadi kolano terkuat di Maluku Utara. Di masa itu Hairun (ayah Babulah) belum berkuasa (Boheyat (1529-1532)).
    Coba liat lagi sumber yang lain supaya lebih valid lagi. Tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kita masih keterbatasan referensi, dan masukan Anda sangat berguna bagi kami untuk terus belajar dan membangun kesejarahan yang sudah mulai ditinggalkan dan dianggap usang...

      Terima kasih sudah mampir...

      Hapus