Laman

12 Januari 2009

Konsekuensi dari Urutan Presiden

Oleh Dr Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama LIPI di Jakarta.

Dalam seminar PDRI yang diadakan Universitas Andalas di Padang 26 Juli 2006, Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa dirinya ditugasi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengkaji tentang presiden-presiden Republik Indonesia. Hal itu tentu berkaitan pula dengan kewajiban yang harus dibayarkan oleh Mensesneg terhadap para (mantan) presiden tersebut.

Selain dari pensiun, hak-hak lain seperti rumah, sebuah sumber menyebutkan, mantan presiden memperoleh rumah senilai Rp 20 miliar. Selain dari memiliki hak-hak materiil, status sebagai (mantan) presiden itu mempunyai implikasi dalam penulisan dan pengajaran sejarah. Sebab, ada tokoh-tokoh yang tidak disinggung dalam pendidikan sejarah di sekolah, padahal mereka seharusnya digolongkan sebagai presiden, yakni Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat.

Tokoh Pejuang yang Kalah

Oleh Dr Asvi Warman Adam, ahli peneliti utama LIPI di Jakarta


HAM Khas versi Indonesia

Oleh Roch Basoeki Mangoenpoerojo*

Prestasi Boedi Oetomo yang paling spektakuler adalah jati diri bangsa. Indonesia sesungguhnya sudah punya HAM sendiri, yang jauh lebih berat untuk dilaksanakan dari pada Human Right PBB tahun 1948. Sayangnya bangsa ini tak pernah mau mempelajari, mengupas dan mendiskripsikannya.

Akhir-akhir ini ada kemelut nasional menyoal HAM. Setidaknya antara Menhan, Komnas-HAM dan Purnawirawan TNI. Issuenya adalah tentang terapan HAM-PBB di alam Indonesia. Untuk mendudukkan persoalan, mungkin wacana HAM-Indonesia yang sudah dipraktekkan di tahun 1908-1949 layak dibuka kembali. Kala itu HAM-Indonesia mampu membangkitkan kemampuan setiap insan Indonesia menjadi manusia seutuhnya, dan menyadarkan bangsa Belanda. Tertulisnya di Pembukaan UUD, alinea 1 dan 2.

08 Januari 2009

Permainan Kotor Saudagar Uang

Oleh: Julis Pour (wartawan, tinggal di Jakarta)

Kejahatan korporasi bagaikan setan haus darah. Akibat kebijakan korporasi, setiap hari 24.000 orang di seluruh dunia mati kelaparan, puluhan ribu anak-anak seperti tercekik mati karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan.

Akibat lanjutan dari kejahatan korporasi ini, lebih dari separuh penduduk dunia terperangkap kemelaratan dan hanya punya penghasilan di bawah dua dollar AS sehari yang tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Jadi jelas, sistem ekonomi dunia masa kini hanya sekedar versi baru dari sistem eksploitasi manusia yang menghasilkan perbudakan sekaligus kemelaratan.

05 Januari 2009

Siapakah Rakyat Itu Sebenarnya?

Oleh: Makmur Keliat (Pengajar FISIP UI)

Kita sering mendengar ucapan petinggi pemerintah, "kepentingan rakyat harus didahulukan daripada kepentingan kelompok." Beberapa petinggi juga kerap mengatakan, "pemerintah telah bekerja untuk rakyat."

30 Desember 2008

enam buah tanya jawab mengenai globalisasi

1. Apakah Globalisasi?
Globalisasi adalah perluasan hubungan ekonomi diantara negara-negara yang berbeda dalam membuat sebuah tatanan ekonomi dunia yang didalamnya terdapat ketergantungan satu sama lain di setiap bidang perekonomian nasionalnya. Tidak ada negara yang sanggup mencukupi kebutuhannya sendiri, mereka seluruhnya saling membutuhkan dalam bertukar hasil–hasil produksinya. Peningkatan dari sebuah integrasi ekonomi dunia tidak memerlukan sebuah alasan yang negatif didalamnya, hal ini menjadikan peletakan dasar bagi perencanaan ekonomi internasional dalam sebuah jalan yang harmonis sebagai sebuah kemungkinan yang besar. Di bawah sebuah sistem perekonomian yang berdasarkan keadilan sosial dan kepemilikan alat-alat produksi bersama (pabrik-pabrik, teknologi dan modal)

18 Desember 2008

Indonesia, Perdebatan yang Belum Selesai

Oleh: Asvi Warman Adam, ahli peneliti Utama LIPI di Jakarta.


April 2008, terbit buku The Idea of Indonesia, A History karangan R.E. Elson, guru besar sejarah University of Queensland, Australia. Komentar William Frederick, Indonesianis dari Ohio University, terhadap karya itu sangat tepat. Dari buku tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa semua perdebatan mengenai Indonesia seyogyanya bermula dari konsep Indonesia itu sendiri.

14 Desember 2008

Pemimpin Masa Revolusi

- Jabatan Presiden Soekarno berlangsung mulai 18 Agustus 1945 sampai dengan 22 Februari 1967. Dalam hal ini ada dua tokoh yang terlewat, yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan Assa'at.

- Sjafruddin Prawiranegara tidak disebut karena dianggap terlibat PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia).

- Assa'at jarang disebut karena tidak dipahami bahwa dia menjabat Kepala Negara saat RI menjadi bagian dari RIS (Republik Indonesia Serikat).

Akhir 1948, Belanda melakukan agresi militer kedua. Soekarno-Hatta mengirimkan telegram, yang berbunyi:
"Kami, Presiden Repoeblik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggoe tanggal 19 Desember 1948

12 Desember 2008

Aktivis vs Rezim


Di paro awal abad 19, pemberontakan Diponegoro di Jawa Tengah, atau pemberontakan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Bukan faktor kebetulan jika keduanya dipimpin panglima berjubah putih, ulama (mereka disebut kaum Padri oleh rezim kolonial Belanda). Lalu setiap rezim (kolonial) disini seolah memiliki alibi pembenar, bahwa "para haji" wajib diwaspadai, bahkan harus ditangkapi.

09 Desember 2008

Tokoh, Pejuang dan Pahlawan

Gadjah Mada, dengan Sumpah Palapanya.
Raja Sriwijaya.
1670 - Sultan Hasanudin, melawan penjajah yang akhirnya ditundukkan dan meninggal.

1692 - Sultan Ageng Tirtayasa, berpulang dalam penjara di Batavia.

07 Desember 2008

Konstruksi Ketidakseimbangan Pembangunan Dalam Telaah Harmonisasi Suprastruktur dan Infrastruktur Kebudayaan

DR. Arif Budi Wurianto

Kebudayaan ibarat sebuah tenda yang menaungi berbagai aspek kehidupan manusia. Semakin tinggi dan luas tenda, semakin sehat aspek-aspek kehidupan yang berada di bawahnya, karena terbuka ruang lapang untuk mudah bergerak. Sebaliknya semakin sempit dan rendah tenda yang menaungi membuat berbagai aspek yang dalam naungannya semakin sempit, pengap dan tidak ada ruang gerak. Hal ini berlaku untuk semua aspek kebudayaan seperti sistem kepercayaan dan religiusitas, kesenian, bahasa, organisasi sosial politik, sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi dan matapencaharian, dan pendidikan.

Ditabrak Trail Polisi, Anjal Demo Polresta

Sekitar 20 anak jalanan (anjal) yang kesehariannya menjadi pengamen, kemarin melakukan aksi di Mapolresta Malang. Anak jalanan yang berusia antara 7 - 16 tahun ini mengeluhkan aksi penertiban preman yang dilakukan polisi.

Mereka pernah menjadi korban kekerasan oknum polisi yang sedang melakukan razia preman beberapa minggu terakhir. Ada yang ditrabrak sepeda motor trail, dipukul pakai gitar, dan diancam bala dibunuh jika tetap mengamen di kawan tertib lalulintas (KTL).

27 November 2008

Masyarakat Komunis Masa Depan

“Ada Hantu berkeliaran di Eropa, Hantu Komunisme”, bagitulah kata pembukaan Manifesto Komunis yang di tulis oleh Karl Marx bersama Engels, sebagaimana hantu adalah mahluk malam, dengan datangnya fajar, maka hantu itupun akan menyingsing, seiring dengan menyingsingnya fajar demokrasi di Eropa Timur, dan meninggalkan pertanyaan apakah memang hantu itu sudah tiba saatnya untuk pamit? Apakah komunisme berada di akhir perjalanannya, seiring dengan kejatuhan kerajaan soviet di awal tahun 1990-an?

Semula kejadian ekonomi dan politik di Uni Sovyet nampak mengesankan dan menjadi salah satu Negara adi kuasa. Pada perang dunia ke II membuka peluang bagi Uni Sovyet untuk menempatkan rezim-rezim komunis di belahan dunia. Mulailah perang dingin antara blok barat dibawah pimpinan Amerika Serikat dan blok timur di bawah komando Uni Sovyet. Pada tahun 1949 Cina direbut tentara merah yang tak bisa di hindari oleh kekuatan militer Amerika sendiri, Revolusi Kuba menempatkan rezim Komunis di depan hidung Amerika.

Biji keambrukan Komunis sebenarnya sudah lama kelihatan, 1960 terjadi perpecahan antara RRC dan Uni Sovyet menjadi semakin terbuka. Dalam tahun 1970-an komunisme dimana-mana sudah mulai kelihatan stagnasinya, pada tahun itu pula demokrasi social mendapat tantangan berat dari filosofi pasar bebas, khususnya bangkitnya Tatcherisme dan Reaganisme yang lebih umum di sebut “Neo-Liberalisme”. Gagasan Van Hayek sebagai pendukung utama pasar bebas sekaligus kritikus sosialisme lainnya tiba-tiba menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. Memang tanpa Ghorbachev barang kali sakaratul maut akan lebih lama dan barangkali akan berjalan dengan sangat berbeda.

Perkembangan ini mesti secara mendalam mempengaruhi nasib partai-partai komunis di Negara-negara non komunis, termasuk di indonesia. Akan tetapi sulit membayangkan bahwa ide Komunis masih dapat dipakai sebagai ideologi dan kerangka politik bagi seluruh perjuangan kemerdekaan. Gerakan Revolusioner akan tetap muncul dimana-mana dan dalam kondisi-kondisi yang cocok, meskipun demikian dapat diragukan apakah mereka masih akan mau berjuang di bawah panji-panji Komunisme? Sosialisme tidak pernah mati, karena hantu di eropa itu masih tetap menyeramkan, tentu saja merupakan keharusan bagi kita untuk belajar dari pengalaman Sovyet yang pahit itu dan terutama mengenahi apa yang terjadi ketika rakyat dilucuti dari hak-hak demokratiknya. Revolusi Bolivarian di Venezuela adalah contoh bagi gerakan-gerakan revolusioner dalam melawan dominasi Imperialisme. Revolusi Bolivarian ini juga untuk membantah buku The End of History yang dituls oleh Fransis Fukuyama yang mengatakan bahwa akhir dari sebuah sejarah bumi ini adalah kemenangan Neo-Liberalisme.

Dimata mayoritas penduduk planet bumi ini, dua pengalaman histories dalam pembangunan masyarakat tanpa kelas Stalinis dan social demokrasi telah gagal.ini adalah kegagalan dari sebuah tujuan sosial yang radikal secara menyeluruh. Tapi pemahaman ini tidaklah bermakna satu penilaian negative terhadap perubahan-perubahan social yang menguntungkan kaum tertindas. Dalam pemahaman ini neraca atas aktifitas gerakan rakyat selama 150 tahun terakhir tetaplah menunjukkan angka positif. Pembangunan sosialisme adalah satu laboratorium raksasa dimana terjadi berbagai pengalaman baru yang belum dapat di pahami sepenuhnya. Dalam lingkup yang lebih besar, kita harus memperhitungkan fakta bahwa taruhannya saat ini adalah sangat dramatic yaitu kelangsungan hidup manusia, kelaparan, penyakit menular, bom nuklir, pencemaran lingkungan, semua itu adalah kenyataan dunia kapitalis dulu dan sekarang, di dunia ketiga, 16 juta anak meninggal karena penyakit dan kelaparan.

Abad kita sekarang adalah abad global, banyak orang menyebutnya sebagai abad dimana batas-batas antara satu Negara dengan Negara lain makin memudar, dengan globalisasi peran Negara kemudian seperti menyusut. Fenomena kemajuan dibidang informasi dan perdagangan sekarang seperti tak lagi bisa dibendung oleh pembatasan atau retriksi dari sebuah Negara. Globalisasi ini tak lebih dari pada taktik dari Negara-negara Imperialis untuk mengeksploitasi dengan cara yang lebih beradab Negara-negara Dunia Ketiga.

Strategi Negara-negara Imperialis ini telah melahirkan banyak perlawanan-perlawanan rakyat di belahan dunia, karena proses ploretarisasi missal yang di timbulkan dari kebijakan-kebijakan Negara-negara Imperialis, jika pada masa perkembangan kapitalis mata rantai penghisapan adalah bourjuasi vis a vis proletar, maka pada zaman sekarang mekanisme penghisapan yang terjadi adalah Negara vis a vis Negara.

Sosialisme dapat memperoleh kembali nama baiknya dan kemampuannya hanya apabila ia siap untuk menjadikan dirinya sebagai alat perjuangan melawan segala macam penghisapan, hal ini menuntu tiga syarat:

Pertama, sekali-kali tidaklah boleh sosialisme menempatkan dukungannya terhadap perjuangan social massa sebagai bagian proyek politik apapun. kita harus berada tanpa syarat ditengah massa dalam tiap perjuangannya, dalam hal ini memang dal Pemilihan Umum tidak begiti penting, sebab menang dalam Pemilu hanya mempunyai kekuasaan untuk memerintah tetapi tidak mempunyai hak untuk memerintah.

Kedua, kita harus mengusung propaganda dan pendidikan ditengah massa untuk sebuah model sosialisme yang memperhitungkan segala macam pengalaman dan bentuk kesadaran dari dasawarsa terakhir. Kita harus membela suatu model sosialisme secara menyeluruh melibatkan peran serta massa disegala bidang kehidupan. Sosialisme macam ini haruslah berwatak mandiri, pro lingkungan, pembela perdamaian yang radikal, pluralistik, sosialisme ini juga harus memperluas kualitas demokrasi, internasionalis dan plural, termasuk membela sistem multipartai.

Ketiga, kondisi yang diperlukan adalah penolakan dari kaum sosialis dan komunis atas semua praktek paternalistik, palsu dan elitis. Kita harus merenungkan dan menyampaikan sumbangan Karl Marx yang utama dalam dunia politik. Kebangkitan kemandirian kaum pekerja itu sendiri. Kebangkitan ini tidak dapat dikerjakan oleh Negara, pemerintah, para pemimpin partai ataupun pakar yang tidak bercacat sekalipun.
Jika ketiga syarat tersebut dipenuhi, maka hantu itu muncul untuk menghadirkan diri dalam bentuk suatu manifesto, yang akan menjadi manifesto partai, karena Marx sudah memberikan bentuk partai kepada kekuatan yang berstruktur poltis dan akan menjadi motor bagi revolusi, transformasi, perampasan dan akhirnya destruksi sebuah Negara.
(sumber: www.rumahkiri.net)