Laman

03 Januari 2011

Kebudayaan Imperialis AS yang Harus Dijebol

Pidato Pramoedya Ananta Toer dalam acara resepsi penutupan sidang Pleno Lekra di Palembang. dimuat di Harian Rakjat, Minggu, 15 Maret 1964.

Para pembesar setempat dan kawan-kawan sekalian, ormas-ormas sekawan, dan simpatisan-simpatisan.
Apabila perhatian kita tujukan pada hiasan di samping kiri saya, dapat dibaca semboyan baru 'Jebol Kebudayaan Imperialis AS, Bangun Kebudayaan Nasional dengan Kobarkan Kebangkitan Tani.' Semboyan ini tidak lain dari garis baru yang merupakan sari keputusan Pleno PP Lekra di kota ini.

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya penjebolan kebudayaan imperialis Amerika Serikat dengan pembangunan kebudayaan nasional, dengan Kebangkitan Tani? Katak-katak yang begitu aktif di musim hujan ini pun, bila bisa membaca, segera akan mengerti, bahwa tanpa menjebol kebudayaan imperialisme Amerika Serikat, tidak mungkin kita membangun kebudayaan nasional, tidak mungkin kita mengobarkan kebangkitan tani. Jadi, di dalam

09 November 2010

Redefinisi Pahlawan

Oleh: Asvi Warman

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa (1988), kata pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jadi ada tiga aspek kepahlawanan, yakni: 1) keberanian; 2) pengorbanan; 3) membela kebenaran. Sebelum atau sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, dalam berhadapan dengan penjajah, definisi pahlawan itu lebih mudah dirumuskan.

30 September 2010

Beberapa Pandangan tentang G 30 S/PKI

Oleh Asvi Warman Adam

Setelah era reformasi 1998, masyarakat Indonesia mengenal beberapa versi tentang dalang percobaan kudeta pada 1965. Pada masa Orde Baru, di sekolah hanya dikenal dan diajarkan versi tunggal bahwa PKI dalang peristiwa tersebut. Ini merupakan versi yang paling tua karena pembantu Soeharto seperti Yoga Sugama sejak 1 Oktober sudah menduga PKI di balik kudeta tersebut. Keyakinan itu sudah ada lebih dahulu walaupun upaya pembuktian baru dilakukan belakangan melalui Mahkamah Militer Luar Biasa.

28 September 2010

Ketika di Kudeta Tak Mau Melawan

Konflik elit telah bergeser menjadi konflik horisontal, yang kemunculannya seperti diatur bersamaan konflik etnik dan tuntutan disintegrasi. Dalam carut marut seperti inilah, ajaran Bung Karno diharapkan bisa merajut kembali kesadaran berbangsa yang terkoyak.


18 September 2010

Permasalahan Budaya Massa dan Media Massa

Media massa seperti radio dan film mentransmisikan dan menanamkan ideologi resmi negara fasis karena dapat dikendalikan dari pusat dan dapat menyiarkan kepada penduduk secara umum. Ketiadaan organisasi-organisasi politik tandingan di dalam masyarakat totaliter hanya ditambahkan pada efesiensi persamaan ini: media massa menandingi propaganda massa dan menandingi represi massa. Keberadaan sarana-sarana yang sangat efektif dalam mencapai orang dalam jumlah besar di dalam masyarakat dengan sistem politik terpusat dan totaliter dipandang oleh orang banyak sebagai suatu cara lain, disertai paksaan untuk mengakarkan sistem semacam itu dan menghalangi berbagai alternatif demokratis.

21 Juni 2010

Kehidupan Soekarno di Bulan Juni: "Cermin Penghinaan Terhadap Seorang Founding Father"


“Aku ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat,” Soekarno, Menggali Api Pancasila.

Ada dua peristiwa sangat penting yang terjadi kehidupan Soekarno pada bulan Juni, tahun 1970. Sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, mengatakan bahwa Soekarno telah “dibunuh dua kali” karena Hari Kelahiran Pancasila yang Soekarno bidanin pada 1 Juni 1945 dilarang oleh Orde Baru untuk diperingati. Pada tanggal 21, bulan Juni 1970 jugalah, Soekarno meninggal di “penjara” di Wisma Yaso, Jakarta dengan kondisi yang tak terawat (Asvi Warman Adam, Pancasila dan Soekarno). Larangan untuk memperingati hari lahirnya Pancasila adalah pembunuhan pertama dan kematian Seokarno di Wisma Yaso adalah pembunuhan kedua.

23 April 2010

Pesta Kekayaan Alam Pasti Berakhir

Oleh: Amaryoto dan M. Syaifullah

Ketika pemerintah daerah berfoya-foya dengan sumber daya alam yang ada, pada saat yang sama mereka telah bunuh diri. Pemanfaatan yang seharusnya bijaksana telah dirusak kepentingan sesaat. Perluasan kebun sawit di beberapa daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan, pada satu sisi menguntungkan karena bisa meningkatkan ekspor. Namun, perluasan yang tidak terkendali telah merusak lingkungan.

Persoalan pertama yang muncul adalah adanya masalah dalam hal keanekaragaman hayati. Hingga kita belum mengetahui berbagai kekayaan dan manfaatnya, hutan telah raib berganti dengan kebun sawit yang mahaluas.

06 Maret 2010

Pintar, tetapi Tertutup

Oleh: Rhenald Kasali (Ketua Program Magister Manajemen, Universitas Indonesia)

Dalam buku Genom, yang ditulis Matt Ridley, ada nama Joe-Hin Tjio. Disebutkan, Joe, orang Indonesia, telah berperan penting dalam upaya manusia mengurai sandi-sandi yang tersimpan dalam DNA. Upaya yang dilakukan tahun 1955 itu telah menjembatani karya spektakuler Francis Crick dan James Watson (penemu teori DNA dalam genetika biologi) dengan turunannya, yaitu genetika perilaku. Bersama Albert Levan, Joe-Hin Tjio berhasil mengurai bahwa genetika manusia terdiri atas 23 pasal sel kromosom, bukan 24, seperti dimiliki spesies kera. Proses evolusi menggabungkan dua asang kromosom kera pada kromosom dua sehingga terwujud sosok manusia. Demikian dijelaskan pakar teori evolusi yang menyaksikan perbedaan para kromosom dua itu, yang tampak pada pola pita-pita hitam.

16 Desember 2009

Skenario AS Musnahkan Nuklir Pakistan

Pakistan sebagai kekuatan nuklir di Asia Selatan sering menjadi sumber kecemasan berbagai pihak. Pasalnya, sejak berdiri tahun 1947, Pakistan memiliki tradisi politik dan keamanan yang labil.

Sempat muncul kekhawatiran yang sangat kuat selama ini bahwa senjata nuklir Pakistan bisa setiap saat jatuh ke tangan kelompok radikal yang kini sedang terlibat dalam perang terbuka dengan militer Pakistan di Waziristan, Lembah Swat, Provinsi Barat Laut (NWFP), bahkan di seantero negeri itu.

Akan tetapi, wawancara khusus pemimpin redaksi harian Pakistan, Al-Ummah, Shiren Mezari, dengan harian terkemuka Mesir, Al Ahram, beberapa pekan lalu mengungkapkan, bahaya sesungguhnya bukan datang dari kelompok radikal, tetapi justru dari Amerika Serikat.

22 Mei 2009

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Oleh: Aswi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah

Setiap tahun tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal tersebut merupakan hari lahir Budi Utomo, yang didirikan di Jakarta 20 Mei 1908. Belakangan ini sering timbul pertanyaan mengapa tanggal tersebut yang dipilih. Memang organisasi itu diakui sebagai organisasi modern pertama di Tanah Air kita, tetapi ruang lingkup keanggotaannya masih terbatas kepada orang Jawa (priyayi). Sementara itu, “cita-citanya adalah mempertahankan status quo dalam masyarakat sosial Jawa” (Savitri Scherer, 1985:267).

22 April 2009

Sekilas tentang Neoliberalisme

*) dikutip dari Darmaningtyas dalam Tirani Kapital dalam Pendidikan-Menolak UU BHP

Neoliberalisme, yang juga dikenal sebagai paham ekonomi liberal, mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam penataan kegiatan ekonomi. Neoliberalisme bermula dari pandangan yang mengembangkan gagasan mengenai sistem ekonomi yang mencakup aturan tentang peran negara, modal dan pasar, dalam mekanisme pasar bebas. Tokoh-tokoh kunci neoliberalisme ini antara lain adalah Friedrich August von Hayek dan Milton Friedman. Menurut Friedman, murid von Hayek, kehidupan ekonomi masyarakat akan berlangsung dengan baik jika tanpa campur tangan apapun dari pemerintah. Ia menyatakan bahwa tingkat pengangguran masyarakat tidak seharusnya diatasi dengan campur tangan pemerintah, melainkan diserahkan saja kepada mekanisme pasar kerja yang bebas.1) Prinsipnya adalah

03 April 2009

Balada Negara Tak Bertuan

Oleh: Riswandha Imawan (guru besar Fisipol UGM Jogjakarta)

Saat para hulubalang memohon ke Sultan Iskandar (Aceh) agar membatalkan hukuman mati terhadap anaknya yang melakukan pelanggaran amat berat, Sultan justru berujar, "Matte aneuk meupat jeurat, gaadoh adat hana pat tamita." Maknanya, "Jika anak meninggal ada kuburannya, namun jika adat hilang, kemana hendak dicari."

Sultan Iskandar Muda tidak mengenal ajaran para filosof politik Eropa. Namun, pandangan dan sikapnya jelas sejalan dengan pemikiran para filosof itu, bahwa kesepakatan bersama (hukum, adat) harus ditegakkan bila kita tidak mau kehilangan arah melangkahkan kaki menuju ke tujuan akhir hidup bermasyarakat dan bernegara.