Laman

24 Juli 2008

Aku Membeli Karena Itu Aku Ada

Sejak ribuan tahun yang lalu, dunia materi telah menjadi kekuatan luar biasa yang dikejar-kejar manusia. Dampak dari pengejaran ini pun begitu bervariasi dan berperan besar dalam membentuk proses peradaban kehidupan di Bumi ini. Dari yang berbentuk mitos ala Yunani dan Ken Arok hingga yang lebih ilmiah ala Revolusi Industri dan Perang Dingin. Hampir semua proses perubahan besar dalam sejarah dunia kita tidak terlepas dari perkembangan dunia materialis tersebut.

Pembangunan materialis pada ukuran yang tepat memang diperlukan demi kesejahteraan umat manusia, namun ketika materialis telah menghegemoni perkembangan dunia, ia tidak lagi menjadi sarana yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Ia akan menampilkan wajah paradoksnya. Globalisasi ekonomi sebagai pilar hegemoni dunia materialis telah mengakibatkan semakin meningkatnya ketidakseimbangan dalam banyak aspek. Kesenjangan dan ketidakadilan antara negara maju dan negara berkembang semakin lebar. Semakin berkuasanya perusahaan-perusahaan multinasional telah mengikis kemampuan setiap negara untuk mengontrol kegiatan ekonomi dalam negerinya. Globalisasi bahkan membuat negara-negara semakin tidak berdaya dalam mengendalikan ekonomi kapitalis yang sayangnya selalu berwajah serakah dan setengah perampok. Semua inilah yang telah menimbulkan dilema kemanusiaan yang luar biasa dampaknya.

Hegemoni dunia materialis ini juga telah menggeser nilai-nilai budaya yang ada di setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat. Saat ini budaya materialis telah mendunia dan ideologi kebangsaan suatu negara pun menjadi semakin jelas muaranya yakni materialisme. Hal ini terjadi karena hasil akumulasi liberalisasi dengan ideologi kapitalis yang kemudian menghegemoni kesadaran dunia di mana Amerika menjadi tolok ukur dalam kemajuan suatu negara. Akibatnya, mereka yang hidup di Dunia Ketiga menjadi sapi perahan bagi negara-negara maju yakni eksploitasi besar-besaran sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya, dan seterusnya. Setelah propaganda globalisasi dilakukan, ternyata modal menjadi kata kuncinya, sementara mereka yang hidup di Dunia Ketiga tidak memiliki kendali dan kekuatan atas modal tersebut.

Seperti burung di alam bebas, para pemilik modal tidak bisa dihalau oleh sistem kekuasaan yang otoriter sekalipun. Bahkan sebaliknya, kekuasaan negara dibuat tak berdaya olehnya. Modal dapat berpindah dari satu sistem kekuasaan ke sistem kekuasaan yang lain. Persaingan sistem politik dan ekonomi pun terjadi. Mereka saling mempengaruhi dan tidak jarang menimbulkan ketegangan, namun kemenangan biasanya berakhir di pihak pemodal. Sekarang ini berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah lebih dikendalikan oleh kepentingan dan kekuasaan pemilik modal.

Kondisi ini membuat analisa yang didasarkan pada kekuatan partai politik dan pergerakan massa pun menjadi tidak berguna untuk menjelaskan kebijakan di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Kebebasan dan kekuasaan yang dimiliki pemilik modal telah menentukan arah kebijakan negara yang tidak jarang amat merugikan, menyengsarakan dan rasa keadilan rakyatnya sendiri. Kekuasaan kemudian bisa dikendalikan oleh pemilik modal dan menjadi pusat kendali semua kebijakan ketika pemilik modal juga berhasil menguasai sumber daya, khususnya sumber daya kekuatan politik. Kita membutuhkan konsep pembangunan yang baru, yang mampu melampaui hegemoni materialisme. Untuk itu, spiritualitas menjadi amat penting dalam mengimbangi daya rusak hegemoni dunia materialis.

Dalam konteks mencari konsep pembangunan yang berdimensi spiritualis itulah antitesis yang ditampilkan dari sikap hidup seseorang menjadi amat berharga bagi kehidupan ini. Secara umum, sesuai teori pembangunan materialis, seseorang dapat mengukur pembangunan secara fisik, seperti misalnya meningkatnya pendapatan, bertambahnya jumlah pabrik, sekolah, rumah sakit, pangan, hingga jumlah tenaga kerja. Kita kemudian berasumsi jika jumlah secara kuantitas ini meningkat, maka secara otomatis kualitas kehidupan juga meningkat. Namun jika seseorang ingin mengukur pembangunan dalam segi kualitatif yang sesungguhnya, tidak seharusnya hanya menimbang antara hubungan manusia dengan kemajuan materi semata, tapi juga hubungannya dengan kemajuan potensi-potensi manusia secara penuh. Ketika manusia memiliki bahan pangan yang cukup untuk mempertahankan hidup tapi tertekan oleh rasa takut, depresi, ketidakadilan dan tidak memiliki kemerdekaan sipil, maka keadaan masyarakat itu tidak benar-benar mengalami kemajuan. Memang, pembangunan materialis jelas berguna untuk menjamin tersedianya kebutuhan dasar manusia. Dengan kebutuhan dasar ini membantu manusia untuk mempertahankan kehidupan fisiknya saja. Selain kemerdekaan fisik, pembangunan juga harus mampu menjamin kemerdekaan sosial dan kemerdekaan spiritual manusia. Kemerdekaan sosial tercapai ketika kehidupan masyarakat tidak lagi mengalami penindasan sosial, politik dan budaya. Dengan demikian keadilan sosial, persamaan dan keselarasan hidup dengan alam dapat dijamin kelangsungannya. Jaminan atas kemerdekaan fisik dan sosial akan memberi ruang bagi manusia untuk meraih kebebasan yang lebih halus, sebuah kebebasan spiritual.

Dalam konteks yang lebih umum, kebebasan spiritual tercapai ketika kemerdekaan batin dapat dirasakan oleh individu yang tidak lagi bergantung kepada faktor-faktor luar. Karena dari sudut spiritual, manusia memiliki kualitas istimewa yang dapat mengantarkan kepada kehidupan yang sepenuhnya, bukan hanya pemenuhan kebutuhan materi semata. Pembangunan negara kita juga harus memperhatikan kualitas inti dari kemanusiaan ini.

Dari sudut pandang materialis, pembangunan itu dikatakan berjalan bila terjadi peningkatan keuangan dan benda-benda materi, yang memandang keberhasilan pembangunan hanya dari peningkatan jumlah (sesuatu yang mendorong keserakahan). Sedang dari sudut pandang agama, pembangunan yang tengah berjalan saat ini merupakan hal yang jelas-jelas miskin dan terbelakang, karena pembangunan berkonsep spiritual memandang pembangunan yang benar adalah ketika keserakahan mampu dieleminir. Singkatnya, pembangunan tercapai ketika keserakahan dapat dikendalikan. Semakin berkualitas penghapusan keserakahan maka pembangunan itu menjadi semakin menunjukkan kemajuannya. Berbeda dengan konsep materialisme yang percaya bahwa pembangunan dapat tercapai dan terpenuhi. Jadi jelas bila konsep pembangunan spiritual merupakan lawan dari gagasan materialisme yang mendominasi pemikiran kita saat ini. Tetapi sayang, dalam kenyataannya agama saat ini telah berangsur-angsur kehilangan idealisme tersebut. Masyarakat telah menjadi begitu kapitalis dan konsumeris. Mereka melupakan esensi ajaran agamanya dan terjebak dalam praktik-praktik ritual belaka.

Tetapi, harus bagaimana agar manusia mampu keluar dari hegemoni dunia materialis ini? Dunia materialis dan daya pikatnya telah begitu membius manusia. Bahkan konsumerisme yang merupakan anak kandung dari kapitalis dan materialis telah menjadi agama baru peradaban modern. Bila pada masa lalu eksistensi manusia diukur dari kecerdasan otaknya "aku berpikir karena itu aku ada" maka saat ini yang berlaku adalah "aku membeli karena itu aku ada." Manusia seakan-akan menjadi tidak berarti bila tidak mampu membeli. Bila agama-agama konvensional memiliki tempat ibadah untuk mewujudkan rasa baktinya, maka tempat ibadah agama baru konsumerisme ini tersebar luas di berbagai mal dan plasa. Belanja dan membeli seakan menjadi bentuk ritual agama baru ini. Sedang periklanan di media massa cetak dan elektronik telah menjadi mimbar bagi kotbah-kotbah indah yang membius kesadaran manusia. Ekonomi mainstream dewasa ini telah mendorong suburnya keserakahan. Manusia seakan hanya memiliki dua aspek dalam hidupnya: menghasilkan uang dan mengkonsumsi. Inilah yang membuat manusia kehilangan dimensi spiritual dan keseimbangan dalam hidupnya.
Untuk itulah, di tengah-tengah suasana yang semakin menjauhkan manusia dari hakekat kehidupan spiritual yang pada dasarnya telah dimiliki oleh setiap manusia, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya amat berharga. Agama mengingatkan kita untuk kembali ke jati diri manusia yang seutuhnya. Kesederhanaan adalah antitesis dari kebahagiaan semu yang dijanjikan oleh dunia materialis yang serba serakah dan tak kenal puas. Semakin manusia tidak mengenal rasa puas, keserakahan yang ada semakin menjadi candu yang menjauhkannya dari rasa damai dan bahagia. Kebahagiaan diperoleh ketika pengendalian diri menjadi acuan hidup manusia, karena dari sanalah benih-benih pencerahan dan kemerdekaan spiritual akan memperoleh ruang untuk berkembang. Karena itu, konsep pembangunan yang mampu melampaui hegemoni dunia materialis akan menjadi agenda besar yang menjadi tugas kita bersama. Itu pun kalau memang kita sungguh-sungguh ingin keluar dari berbagai dilema kemanusiaan yang saat ini semakin kompleks menjerat kehidupan di Bumi ini. Semoga hal ini dapat menjadi renungan yang menjadi awal bagi munculnya buah kontemplasi yang lebih konkret dan berguna bagi kehidupan kemanusiaan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar