Laman

23 April 2010

Pesta Kekayaan Alam Pasti Berakhir

Oleh: Amaryoto dan M. Syaifullah

Ketika pemerintah daerah berfoya-foya dengan sumber daya alam yang ada, pada saat yang sama mereka telah bunuh diri. Pemanfaatan yang seharusnya bijaksana telah dirusak kepentingan sesaat. Perluasan kebun sawit di beberapa daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan, pada satu sisi menguntungkan karena bisa meningkatkan ekspor. Namun, perluasan yang tidak terkendali telah merusak lingkungan.

Persoalan pertama yang muncul adalah adanya masalah dalam hal keanekaragaman hayati. Hingga kita belum mengetahui berbagai kekayaan dan manfaatnya, hutan telah raib berganti dengan kebun sawit yang mahaluas.

06 Maret 2010

Pintar, tetapi Tertutup

Oleh: Rhenald Kasali (Ketua Program Magister Manajemen, Universitas Indonesia)

Dalam buku Genom, yang ditulis Matt Ridley, ada nama Joe-Hin Tjio. Disebutkan, Joe, orang Indonesia, telah berperan penting dalam upaya manusia mengurai sandi-sandi yang tersimpan dalam DNA. Upaya yang dilakukan tahun 1955 itu telah menjembatani karya spektakuler Francis Crick dan James Watson (penemu teori DNA dalam genetika biologi) dengan turunannya, yaitu genetika perilaku. Bersama Albert Levan, Joe-Hin Tjio berhasil mengurai bahwa genetika manusia terdiri atas 23 pasal sel kromosom, bukan 24, seperti dimiliki spesies kera. Proses evolusi menggabungkan dua asang kromosom kera pada kromosom dua sehingga terwujud sosok manusia. Demikian dijelaskan pakar teori evolusi yang menyaksikan perbedaan para kromosom dua itu, yang tampak pada pola pita-pita hitam.

16 Desember 2009

Skenario AS Musnahkan Nuklir Pakistan

Pakistan sebagai kekuatan nuklir di Asia Selatan sering menjadi sumber kecemasan berbagai pihak. Pasalnya, sejak berdiri tahun 1947, Pakistan memiliki tradisi politik dan keamanan yang labil.

Sempat muncul kekhawatiran yang sangat kuat selama ini bahwa senjata nuklir Pakistan bisa setiap saat jatuh ke tangan kelompok radikal yang kini sedang terlibat dalam perang terbuka dengan militer Pakistan di Waziristan, Lembah Swat, Provinsi Barat Laut (NWFP), bahkan di seantero negeri itu.

Akan tetapi, wawancara khusus pemimpin redaksi harian Pakistan, Al-Ummah, Shiren Mezari, dengan harian terkemuka Mesir, Al Ahram, beberapa pekan lalu mengungkapkan, bahaya sesungguhnya bukan datang dari kelompok radikal, tetapi justru dari Amerika Serikat.

22 Mei 2009

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Oleh: Aswi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah

Setiap tahun tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal tersebut merupakan hari lahir Budi Utomo, yang didirikan di Jakarta 20 Mei 1908. Belakangan ini sering timbul pertanyaan mengapa tanggal tersebut yang dipilih. Memang organisasi itu diakui sebagai organisasi modern pertama di Tanah Air kita, tetapi ruang lingkup keanggotaannya masih terbatas kepada orang Jawa (priyayi). Sementara itu, “cita-citanya adalah mempertahankan status quo dalam masyarakat sosial Jawa” (Savitri Scherer, 1985:267).

22 April 2009

Sekilas tentang Neoliberalisme

*) dikutip dari Darmaningtyas dalam Tirani Kapital dalam Pendidikan-Menolak UU BHP

Neoliberalisme, yang juga dikenal sebagai paham ekonomi liberal, mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam penataan kegiatan ekonomi. Neoliberalisme bermula dari pandangan yang mengembangkan gagasan mengenai sistem ekonomi yang mencakup aturan tentang peran negara, modal dan pasar, dalam mekanisme pasar bebas. Tokoh-tokoh kunci neoliberalisme ini antara lain adalah Friedrich August von Hayek dan Milton Friedman. Menurut Friedman, murid von Hayek, kehidupan ekonomi masyarakat akan berlangsung dengan baik jika tanpa campur tangan apapun dari pemerintah. Ia menyatakan bahwa tingkat pengangguran masyarakat tidak seharusnya diatasi dengan campur tangan pemerintah, melainkan diserahkan saja kepada mekanisme pasar kerja yang bebas.1) Prinsipnya adalah

03 April 2009

Balada Negara Tak Bertuan

Oleh: Riswandha Imawan (guru besar Fisipol UGM Jogjakarta)

Saat para hulubalang memohon ke Sultan Iskandar (Aceh) agar membatalkan hukuman mati terhadap anaknya yang melakukan pelanggaran amat berat, Sultan justru berujar, "Matte aneuk meupat jeurat, gaadoh adat hana pat tamita." Maknanya, "Jika anak meninggal ada kuburannya, namun jika adat hilang, kemana hendak dicari."

Sultan Iskandar Muda tidak mengenal ajaran para filosof politik Eropa. Namun, pandangan dan sikapnya jelas sejalan dengan pemikiran para filosof itu, bahwa kesepakatan bersama (hukum, adat) harus ditegakkan bila kita tidak mau kehilangan arah melangkahkan kaki menuju ke tujuan akhir hidup bermasyarakat dan bernegara.

29 Maret 2009

Irasional Namun Efektif

Oleh: A Setyo Wibowo (Pengajar STF Driyarkara, Jakarta)

Kenalilah dirimu sendiri, itulah maksim Orakel Delphi dasar pencarian kebijakan Sokrates, bapak semua pencari kebijakan dalam kebajikan (Platon, Alkibiades 130E).

Jika para calon anggota legislatif menebarkan dengan sangat percaya diri foto mereka, apakah mereka benar-benar memperkenalkan diri mereka? Secara rasional sokratik, tentu tidak, tetapi pada kenyataannya, sepalsu apa pun imaji yang dibangun, itu bisa efektif! Pertaruhannya bagi kita adalah menyadari keanehan ini supaya demokrasi bisa kita langgengkan.

12 Maret 2009

Mengakhiri Kontroversi SUPERSEMAR

Oleh: Aswi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah

Sampai hari ini tampaknya kontroversi tentang Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966 tidak kunjung selesai. Kontroversi pertama, tentang proses penyusunan dan penyerahan surat tersebut yang terkesan tidak wajar. Surat tersebut dibuat bukanlah atas inisiatif dan kemauan Soekarno sendiri. Tahun 1998, anggota Tjakrabirawa Letnan Dua (purn) Soekardjo Wilardjito mengaku bahwa Jenderal Panggabean menodongkan pistolnya kepada Presiden Soekarno, dengan kata lain penugasan tersebut (baca: pengalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto) diberikan dalam keadaan terpaksa. Pada gilirannya, orang bisa menduga bahwa pada bulan Maret 1966 itu terjadi semacam kudeta.

23 Februari 2009

Ketika Nasionalisme Dikaburkan Budaya Pop

Oleh: J.H. Prastiwi (pegiat Lingkar Studi Anak Merdeka, FISIP Unair, Surabaya)

Ada banyak pelajaran yang dapat kita tarik dari sistem globalisasi. Melalui sistem ini, setidaknya kita dapat melihat bagaimana sistem teknologi informasi maju begitu pesat. Kemudian, kita juga dimudahkan untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia.

Namun, pelajaran lain yang tak kalah penting adalah merebaknya ideologi-ideologi tandingan yang sebenarnya mengglobal pula. Misalnya, kemunculan gerakan-gerakan kultural dan keagamaan, seperti gerakan terorisme yang mengatasnamakan agama.