Laman

10 September 2012

Pancasila - Indonesia

Dasar dan Falsafah Bangsa Indonesia
             Dalam film A Beautiful Mind yang mengisahkan pemenang Nobel bidang matematika, John Nash, ada adegan John Nash dan pacarnya di taman pada malam pesta. John Nash memandang ke langit malam yang bertaburan bintang, dan meminta kepada pacarnya untuk menyebutkan benda yang diinginkannya. Pacarnya menyebut “payung”, dan John Nash menuntut tangan pacarnya menunjuk ke langit dan memilih bintang-bintang taburan tersebut sebagai gambar payung.

              Dua kekasih itu kemudian penuh tawa dan canda menyebutkan benda-benda lain, yang ternyata dapat ditemukan di taburan bintang-bintang malam. Langit malam menyediakan berbagai bentuk gambar yang kita inginkan asal kita jeli membangun hubungan-hubungan antar bintang-bintang tersebut.

        Begitu pula dalam puisi grafis Jeihan ini, kita dapat membangun sistem hubungan tertentu yang berkaitan dengan Pancasila dan Indonesia. Jeihan sendiri hanya menyebutkan bahwa yang dia “gambar” adalah perisai bujur sangkar dengan simbol huruf V yang berarti “lima” sila Pancasila atau “Victory”, sehingga kata-kata “Viva Pancasila” di bawahnya bersambung dengan gambar bujur sangkarnya, Pancasila adalah perisai bangsa, mempertahankan budaya, negara, rakyat, dari ancaman budaya atau bangsa lain. Atau bahkan melindungi dari ancaman dalam negeri sendiri. Pancasila harus tetap hidup, Viva, dan jaya selalu, Victory.

           Namun mengikuti bahasa matematika John Nash, kita dapat membangun berbagai sistem hubungan dari gambar yang tersedia, asal masih fokus pada makna “Indonesia” dan “Pancasila”. Itulah kesatuan maknanya.

          Marilah kita mulai dengan jumlah huruf V yang dia pakai. Masing-masing sisi bujur sangkar dibangun dari 17 huruf V. Angka 17 tentu simbol angka keramat Indonesia 17-8-45. Makna 17 berbeda dengan sajak Doa yang bermakna 17 rakaat dalam jumlah salat wajib bagi umat Islam sehari semalam. Di sini pun bisa saja dipakai pemaknaan sebagai rasa syukur pada Tuhan atas lahirnya Indonsia dan Pancasilanya.

            Maknanya tak lain adalah sistem hubungan kuantitas-kuantitas dalam satu kesatuan dalam dirinya. Sistem hubungan mana yang membuat gambar ini dapat bermakna Pancasila? Pancasila adalah kesatuan entitas. Pancasila bukan jajaran lima sila yang digabung-gabungkan seenaknya sendiri. Pola Pancasila adalah mencapat kalimo pancer, bahwa yang lima itu tunggal adanya. Pancasila adalah sebuah mandala, ruang kehadirannya lewat harmoni keempat silanya yang masing-masing berpasangan. Sila “kebebasan individu” alias demokrasi liberal berseberangan dengan sila “keadilan sosial” atau sebenarnya keterikatan sosial, bisa juga sosialisme. Kebebasan individu dikendalikan oleh keterikatan sosialnya. Sosio-demokrasi. Sedangkan pasangan yang lainnya adalah “nasionalisme” yang berseberangan dengan “humanisme” atau “internasionalisme” yang sejajar dengan “kebebasan nasional” serta keterikatan “internasional”. Sosio-nasionalisme. Pasangan mikro kebebasan dan keterikatan individu-sosial adalah sejajar dengan pasangan makro kebebasan dan keterikatan internasional.

            Harmoni kebebasan dan keterikatan secara mikro dan makro itu melahirkan nilai kualitas “pusat” yang transenden, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Tindakan sehari-hari manusia Indonesia seharusnya berketuhanan, transenden, melalui penyeimbangan antara kebebasan individual dengan kepentingan bersamanya. Pancasila adalah religius-tas, berketuhanan, bukan agama. Dengan demikian Pancasila bukan “benda”, bukan “struktur”, tetapi “pola bersikap” yang dinamis, fleksibel dan adaptif. Pancasila itu suatu dinamika. Kalau mau dikatakan bahwa pancasila adalah perisai bangsa, maka perisai itu berada dalam pribadi tiap warganya yang senantiasa bersifat paradoks, bebas sekaligus mengikat, kebersamaan sekaligus mengembangkan kebebasan masing-masing. Pancasila bukan kata benda, tetapi kata kerja yang bermakna religiusitas.

          Makna nasionalisme, keadilan sosial, perikemanusiaan, demokrasi-musyawarah, serta Ketuhanan, bukan keterpisahan yang kemudian dikoleksi menjadi satu, tetapi sebuah struktur sistem hubungan-hubungan dari pasangan-pasangan dualitas apa pun yang ada di Indonesia. Kerukunan nasional, kerukunan individual, kerukunan umat beragama, kerukunan antar suku, kerukunan antar partai politik, kerukunan antar pengusaha, itu semua adalah sikap dinamis Pancasila. Kerukunan, harmoni, tanpa meleburkan entitas masing-masing, itulah Pancasila. Itulah laku religius yang kita sebut Ketuhanan Yang Maha Esa. Meskipun manusianya atheis, asal dia menjalankan harmoni kerukunan dirinya dengan yang lain dandengan masyarakat, maka dia menjalankan religiusitas atau berketuhanan.

       Pancasila adalah sistem hubungan yang berpola mandala atau mancapat kalimo pancer, untuk membangun kualitas “pusat” yang transenden. Hidup sehari-hari manusia Indonesia seharusnya bernilai religius, menolak permusuhan, pemisahan, pengkotakan, rasialisme, sukuisme, dan segala bentuk yang membeda-bedakan. Rukun, harmonis, toleran, kerja sama, kesepadanan dalam kebebasan, gotong royong, saling peduli dan menghormati jati diri masing-masing, itulah realitas pasangan sila “kebebasan individu” dan “keterikatan sosial”.

       Pasangan sila kebangsaan dan humanisme juga disejajarkan dengan pasangan mikro di atas. Bagaimana menasional yang mengglobal, berpijak pada akar Indonesia sembari menerima globalisasi. Nasional yang mengglobal, dan global yang menasional. Pancasila adalah paradoks positif, karena sedikit banyak hermeneutik. Aku adalah dia. Dia adalah aku. Aku adalah dia sebagai aku. Dia adalah aku sebagai dirinya. Sesuatu yang tepo sliro, being present in another entity. Aku melakukan yang orang lain ingin lakukan padaku. Aku tidak akan melakukan yang orang lain tidak kuingini melakukannya padaku.

       Pola hubungan semacam itu dapat kita temukan dalam puisi grafis Jeihan berikut. Inilah cara matematikawan pemenang Nobel John Nash melakukannya dalam menemukan pola hubungan mancapat kalimo pancer atau mandala Pancasila dalam Puisi Jeihan.

            Bukan hanya Pancasila, tetapi juga pola Astabrata, ajaran kearifan raja-raja Jawa di zaman dulu, ada dalam puisi ini.

                 Bahkan puisi ini mengandung angka keramat untuk Indonesia, yaitu 17-8-45.

INDONESIA

V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V
V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V   V

V

VIVA PANCASILA!

1975


Sumber: Sajak Filsafat Jeihan. Hal. 29-33.

2 komentar: