22 Mei 2009

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei

Oleh: Aswi Warman Adam dalam Seabad Kontroversi Sejarah

Setiap tahun tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal tersebut merupakan hari lahir Budi Utomo, yang didirikan di Jakarta 20 Mei 1908. Belakangan ini sering timbul pertanyaan mengapa tanggal tersebut yang dipilih. Memang organisasi itu diakui sebagai organisasi modern pertama di Tanah Air kita, tetapi ruang lingkup keanggotaannya masih terbatas kepada orang Jawa (priyayi). Sementara itu, “cita-citanya adalah mempertahankan status quo dalam masyarakat sosial Jawa” (Savitri Scherer, 1985:267).

Budi Utomo: Ekslusif
Penulis sejarah pada masa revolusi A.K. Pringgodigdo dalam buku Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia (1949:12), mengatakan bahwa: “Walaupun Budi Utomo perkumpulan buat seluruh Jawa dan oleh karena itu bermula mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa perantaraan, tetapi sudut pandang sosiaal-cultureel Budi Utomo hanya memuaskan untuk penduduk Jawa Tengah.”

Sedangkan sejarawan M.C. Ricklefs, pengajar di Monash University, Australia menuturkan lebih lanjut tentang organisasi ini dengan versi yang berbeda dari buku pelajaran yang dipakai di Indonesia. Menurutnya, Dr Wahidin Soedirohoesodo (1857-1917) adalah perintis organisasi yang pertama itu. Sebagai seorang lulusan Sekolah Dokter Jawa di Weltevreden (yang sesudah tahun 1900 dinamakan Stovia), ia bekerja sebagai dokter pemerintah di Yogyakarta sampai tahun 1899. Pada tahun 1901 dia menjadi redaktur majalah Retnadhoemilah (Ratna yang berkilauan) yang dicetak dalam bahasa Jawa dan Melayu untuk pembaca kalangan priyayi dan mencerminkan perhatian priyayi terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan status mereka. Selain seorang berpendidikan Barat, Wahidin adalah seorang pemain musik Jawa klasik (gamelan) dan wayang yang berbakat. Dia memandang bahwa kebudayaan Jawa dilandasi oleh ilham Hindu-Budha dan rupanya berpendapat bahwa sebagian penyebab kemerosotan masyarakat Jawa adalah kedatangan agama Islam dan berusaha memperbaiki masyarakat Jawa melalui pendidikan Belanda (Ricklefs, 1994:248-9).

Budi Utomo pada dasarnya tetap merupakan suatu organisasi priyayi Jawa. Organisasi ini secara resmi menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa dan Madura, dengan demikian mencerminkan kesatuan administrasi kedua pulau itu dan mencakup masyarakat Sunda dan Madura yang kebudayaannya mempunyai kaitan erat dengan Jawa. Bukan bahasa Jawa melainkan bahasa Melayu yang dipilih sebagai bahasa resmi Budi Utomo. Namun demikian, kalangan priyayi Jawa dan dalam jumlah yang kecil, Sunda, menjadi kelompok inti pendukung Budi Utomo. Rasa keunggulan budaya orang Jawa sering muncul ke permukaan bahkan di Bandung ada cabang-cabang tersendiri untuk anggota orang-orang Jawa dan Sunda. Budi Utomo tidak pernah memperoleh dukungan rakyat yang nyata pada kelas bawah dan jumlah anggotanya hanya paling banyak sekitar 10.000 orang, pada akhir tahun 1909 (bandingkan dengan Sarekat Islam yang anggotanya mencapai ½ juta).

Organisasi ini pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, serta jarang memainkan peran politik yang aktif. Boleh dikatakan bahwa Budi Utomo sudah mengalami kemandekan hampir sejaj awal permulaannya karena kekurangan dana dan kelangkaan kepemimpinan yang dinamis. Organisasi ini mendesak pemerintah untuk menyediakan lebih banyak pendidikan Barat, tetapi desakan itu tidak begitu berarti.

Di lain pihak, Gubernur Jenderal Van Heutsz menyambut baik Budi Utomo sebagai tanda keberhasilan Politik Etis. Memang itulah yang dikehendakinya: suatu organisasi pribumi yang moderat yang dikendalikan oleh pejabat yang maju. Pada bulan Desember 1909 organisasi tersebut dinyatakan sebagai organisasi yang sah oleh pemerintah Hindia Belanda. Adanya sambutan hangat dari Batavia ini menyebabkan orang yang tidak puas dengan pemerintah, mencurigai Budi Utomo. Sepanjang sejarahnya (organisasi ini secara resmi dibubarkan tahun 1935) sebenarnya Budi Utomo sering kali tampak sebagai partai pemerintah yang seakan-akan resmi.

Sementara itu penulis buku pelajaran sejarah zaman Orde Baru, termasuk Prof. Dr. Suhartono dari UGM memandang organisasi ini dari sudut pandang sangat positif. “Budi Utomo bukan hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi yang terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Memang Budi Utomo mempunyai arti penting, meskipun kalau dihitung jumlah anggotanya hanya 10 ribu, sedangkan SI mencapai 360 ribu. BU lah penyebab berlangsung[nya] perubahan-perubahan politik sehingga terjadinya integrasi nasional, maka wajarlah kalau kelahiran BU tanggal 20 Mei disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Lahirnya BU menampilkan fase pertama dari nasionalisme Indonesia. Fase ini menunjukkan pada etnonasionalisme dan proses penyadaran diri terhadap identitas bangsa Jawa (Indonesia)” (Suhartono, 1994:32).

Rieklefs mengatakan bahwa eksistensi Budi Utomo hanya sampai tahun 1935, tetapi Suhartono melihat bahwa organisasi ini masih ada sampai proklamasi kemerdekaan. Guru-guru dapat menugaskan siswa untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang waktu pembubaran Budi Utomo.

Sarekat Islam: "Banjir Besar"
Menurut pakar sejarah Sartono Kartodirdjo, Sarekat Islam (SI) dalam periode awal perkembangannya merupakan "banjir besar", dalam arti bahwa massa dapat dimobilisasi serentak secara besar-besaran, baik dari kota-kota maupun daerah pedesaan. Timbullah suatu pergolakan yang melanda seluruh Indonesia. Gerakan massa semacam itu dianggap sebagai ancaman langsung terhadap penguasa kolonial.

Berbeda dengan gerakan-gerakan lainnya, Sarekat Islam merupakan gerakan total, artinya tidak terbatas pada satu orientasi tujuan, tetapi mencakup pelbagai bidang aktivitas, ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Tambahan pula di dalam gerakan itu agama Islam berfungsi sebagai ideologi sehingga gerakan itu lebih merupakan suatu revivalisme, yaitu kehidupan kembali kepercayaan dengan jiwa atau semangat yang berkobar-kobar. Semangat religius tidak hanya menjiwai gerakan itu, tetapi juga memobilisasi pengikut yang banyak. Berpuluh cabang berdiri tersebar di seluruh Indonesia, sehingga pertumbuhan yang cepat itu membawa akibat bahwa sebagian besar pengikut pergerakan itu belum mempunyai pengertian dan kesadaran sepenuhnya tentang tujuan dan kegiatannya, lebih-lebih mereka yang dari pedesaan.

Dengan demikian sudah barang tentu timbul penyimpangan-penyimpangan serta penyalahgunaan perjuangan dan nama Sarekat Islam. Terjadilah peristiwa-peristiwa di mana rakyat membenarkan aksi kolektifnya dengan memakai nama SI.

Pemerintah Hindia Belanda menghadapi masalah ini dengan hanya mengizinkan SI lokal, sehingga organisasi SI itu terisolasi satu sama lain. Dengan demikian SI terpecah belah dan tidak dapat berkembang sebagai gerakan nasional (Kartodirdjo, 1990:109-110).

Visi Kolonial dan Orde Baru
Bagi pemerintah kolonial Belanda jelas Budi Utomo yang dipandang penting. Organisasi itu sesuai dengan Politik Etis yang dicanangkan mereka awal abad ke-20, ingin meningkatkan pendidikan tetapi tanpa terjun ke politik praktis. Sedangkan Sarekat Islam lebih dipandang sebagai gerakan yang berbahaya, sebab itu pengakuan pemerintah kolonial terhadap perhimpunan ini hanya bersifat lokal. Pandangan serupa diteruskan oleh pemerintah Orde Baru yang memandang organisasi seperti Budi Utomo lebih cocok dengan program stabilitas nasional. Sedangkan perkumpulan seperti Sarekat Islam itu berpotensi menimbulkan gejolak.

Itulah sebabnya dalam buku-buku sejarah nasional kita Budi Utomo yang ditonjolkan. Bahkan selalu ditekankan bahwa organisasi tersebut tidak bersifat kedaerahan. Kini bingkai sejarah lama itu telah retak. Perlu dibuat yang baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar