Laman

30 Desember 2008

enam buah tanya jawab mengenai globalisasi

1. Apakah Globalisasi?
Globalisasi adalah perluasan hubungan ekonomi diantara negara-negara yang berbeda dalam membuat sebuah tatanan ekonomi dunia yang didalamnya terdapat ketergantungan satu sama lain di setiap bidang perekonomian nasionalnya. Tidak ada negara yang sanggup mencukupi kebutuhannya sendiri, mereka seluruhnya saling membutuhkan dalam bertukar hasil–hasil produksinya. Peningkatan dari sebuah integrasi ekonomi dunia tidak memerlukan sebuah alasan yang negatif didalamnya, hal ini menjadikan peletakan dasar bagi perencanaan ekonomi internasional dalam sebuah jalan yang harmonis sebagai sebuah kemungkinan yang besar. Di bawah sebuah sistem perekonomian yang berdasarkan keadilan sosial dan kepemilikan alat-alat produksi bersama (pabrik-pabrik, teknologi dan modal)
integrasi ekonomi dunia akan meletakan langkah lebih maju bagi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun integrasi ekonomi dunia tersebut berada dibawah sistem kapitalis yang berdasarkan pada kepemilikan produksi pribadi dan pencarian keuntungan yang setinggi-tingginya bagi setiap kapitalis orang-per-orang. Hal ini lah yang menjadikan perkembangan yang diharapkan menjadi tidak mungkin dan hanya membuat sebuah situasi dimana minoritas kecil menjadi sangat kaya raya sementara mayoritas penduduk di bumi memandang diri mereka hidup jauh dibawah standar.

2. Mengapa Ada Peningkatan Kemiskinan dan Ketidakmerataan?
Hari ini ada sekitar 6 milyar penduduk dunia dan hal tersebut memungkinan untuk penyediaan makanan bagi 10 milyar orang. Walaupun demikian, kelaparan, wabah kelaparan dan kesengsaraan terus meningkat (800 juta orang penduduk dunia menderita kekurangan gizi dan 2,4 milyar orang hidup dibawah garis kemiskinan). Kombinasi dari kekayaan tiga petinggi CEO Microsoft jauh lebih besar dari jumlah uang yang dibelanjakan pemerintahan Amerika Serikat dalam program anti kemiskinan. Pertukaran barang-barang produksi diantara perekonomian-perekonomian yang berbeda tidak diletakkan melalui sebuah jalan yang sewajarnya dan hanya menempatkan sejumlah kecil kekuatan perusahaan-perusahaan multinasional yang menguasai kekayaan yang begitu besar (40% dari Gross Domestic Product dunia dan 70% perdagangan) dan memaksakan kepentingannya kepada dunia.
Pembagian ekonomi dunia diantara negara-negara yang berbeda tidak memberikan manfaat secara bersamaan bagi keseluruhan negara-negara tersebut namun akan mempersalahkan negara-negara yang masih terbelakang untuk melimpahkan bahan mentah yang murah (seperti minyak, mineral-mineral dan hasil-hasil pertanian) dan buruh-buruh murah bagi negara-negara maju. Proses ini hanyalah akan meningkatkan ketidakmerataan sebagai ganti dari penurunan penyediaan sumberdaya tadi. Negara-negara miskin dipaksa untuk melakukan pertukaran hasil-hasil produksinya dengan investasi buruh yang mereka miliki (sebagai hasil dari keterbelakangan teknologi yang mereka miliki) dengan barang-barang yang masuk dari negara-negara maju, yang harganya lebih mahal dan lebih mudah diproduksi (bila ditempatkan dalam perhitungan kualitas dan kuantitas alat-alat produksi). Hal ini memberikan gambaran yang sangat jelas siapa yang akan dirugikan dalam proses ini. Selanjutnya perekonomian dunia akan dikuasai oleh kekuatan negara-negara barat dan kalangan multinasional, dan pada akhirnya mereka mampu menetapkan harga-harga, regulasi perdagangan dan kebijaksanaan-kebijaksanan yang sesuai dengan kepentingan mereka kepada masyarakat dunia. Umpamanya, di tahun 1960 Tanzania membutuhkan 200 karung kopi untuk membayar sebuah traktor bikinan Amerika dan sekarang, setelah 30 tahun kemudian, Tanzania memerlukan lebih dari 600 karung kopi untuk mendapatkan barang yang sama.

3. Mengapa Keberadaan Multinasional Begitu Kuat?
Pendominasian dunia oleh segelintir kekuatan multinasional mengalir secara alamiah dari adanya perkembangan kapitalisme yang berbasiskan pada upaya mencari keuntungan pribadi sebesar-besarnya. Agar mencapai keuntungan ini, kaum kapitalis terpaksa akan bersaing satu sama lain, bersaing dalam meningkatkan hasil-hasil produksi mereka, penjualan mereka, pembukaan pasar-pasar baru, melakukan eksploitasi lebih lanjut terhadap pasar yang sudah ada, dan memindahkan modal-modal mereka ke negara-negara baru yang mereka anggap memiliki nilai buruh yang lebih murah dan bahan baku yang murah, dan lain-lain.
Hasil dari terkonsentrasinya kekayaan pada sedikit dan sangat sedikit tangan: hanya segelintir perusahaan-perusahaan besar di negara-negara kapitalis terdepan yang mampu mempertahankan dominasinya ke seluruh dunia. Kapanpun mereka tidak dapat menentukan syarat-syarat melalui alat-alat ekonomi sendirian, kalangan multinasional akan mempergunakan lembaga-lembaga politik dan militer negara-negara asal mereka (pejabat-pejabat pemerintahan, orang-orang parlemen, perangkat hukum dan tentara-tentara dari negara-negara kuat, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang) supaya tujuan mereka tercapai.
Sering kali mereka mencoba menutup-nutupi kepentingan mereka tersebut dengan ikut melakukan campur tangan yang disamarkan dengan baju pembela “kepentingan kemanusiaan” Yang pada beberapa tahun yang lalu mereka tunjukan dengan menghujani Yugoslavia, Irak, dan lainnya dengan suatu “pemboman demi kemanusiaan.” Hal tersebut mereka lakukan supaya mereka dapat mempergunakan lembaga-lembaga Internasional yang dibentuk dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan besar mereka sendiri (seperti IMF, Bank Dunia, NATO, PBB, dll.).
Globalisasi tidak lebih dari suatu tabir asap dari upaya penyamaran dari bentuk sebenarnya sistem kapitalisme. Penggambaran yang paling terbaik bagi kapitalisme sekarang, digolongkan atas eksploitasi dunia Internasional kelas pekerja dan masyarakat di seluruh dunia oleh segelintir negara-negara super power dan perusahaan-perusahaan multinasional, tidak lebih dari imperialisme.

4. Apakah Mungkin Melakukan Perlawanan Menentang IMF dan Bank Dunia Tanpa Memerangi Kapitalisme?
Konsekuensi lain dari ketidakseimbangan pertukaran yang mengakibatkan negara-negara miskin berada pada tingkatan penderitaan yang menyebabkan mereka ditekan untuk mengambil pinjaman dari kekuatan-kekuatan Barat atau dari lembaga-lembaga keuangan yang dibentuk oleh negara-negara Barat tersebut (IMF, Bank Dunia, dll.), yang pada akhirnya hanya membawa negara-negara miskin tersebut ke dalam kesempurnaan perbudakan kekuatan Barat. Karena melalui hutang-hutang mereka tersebut, mereka kemudian ditekan untuk menerima perencanaan-perencanaan perekonomian yang mereka buat dan menerima hubungan internasional yang ditekankan kepada mereka melalui lembaga-lembaga pemberi pinjaman. Bank Dunia, IMF dan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) keseluruhannya merupakan lembaga-lembaga kapitalis yang mencoba untuk memelihara stabilitas sistem kapitalisme. Kekuatan-kekuatan besar dan keuangan multinasional lembaga-lembaga ini ada justru karena lembaga-lembaga ini telah dikuasai mereka dan diwujudkan untuk memutuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka. Kenyataan ini secara mutlak menjadikan upaya melakukan reformasi dan demokratisasi lembaga-lembaga ini menjadi suatu hal yang tidak mungkin, karena jika lembaga-lembaga tersebut berhenti dipergunakan oleh kalangan multinasional, maka secara otomatis keuangan lembaga-lembaga tersebut akan dihentikan oleh kekuatan multinasional tersebut dan pada akhirnya kalangan multinasional akan membentuk suatu lembaga yang baru yang lain. Kekuatan dari multinasional terletak pada kepemilikan mereka atas alat-alat produksi (mesin-mesin, pabrik-pabrik, tanah dan modal). Sepanjang tidak dilakukan tindakan terhadap parasit ini, melalui pengambilalihan kekayaan mereka dan menyerahkannya ke bawah beberapa kontrol yang demokratik, akan menjadi hal yang tidak mungkin untuk mengubah keadaan yang berlaku sekarang.

5. Apakah Alasan–alasan Bagi Demontrasi–demontrasi yang Merebak Di Seattle, Prague, Nice, dan lain–lain?
Kebijaksanaan yang digariskan oleh IMF dan Bank Dunia kepada negara-negara tersebut agar mendapatkan “bantuan” keuangan tidak lain merupakan sebuah taktik dari kapitalis di seluruh dunia dalam upaya peningkatan keuntungannya: biasanya ditekankan IMF dan Bank Dunia melalui “resep penyembuhan” kepada negara penerima bantuan (termasuk Indonesia, red.) melalui program-program pemotongan anggaran pendidikan dan kesehatan, adanya redundasi dan pemotongan upah, merendahkan tingkat beban pensiunan dan kepentingan lainnya yang harus ditanggung pemerintah, “mereformasi” hukum-hukum perburuhan, privatisasi perusahaan-perusahaan negara dan perusahaan-perusahaan yang melayani kepentingan publik, dan lain-lain. Pada negara-negara miskin kebijaksanaan-kebijaksanaan dipakai dalam menentukan penetapan-penetapan bea bebas yang dikombinasikan dengan perampasan sumber daya alam negara tersebut oleh kalangan multinasional. Akibatnya, kesenjangan diantara si kaya dengan si miskin menjadi terus meningkat, demikian pula dengan adanya peningkatan tingkat kemiskinan dan kehancuran dari lingkugan di seluruh penjuru dunia. Suara protes yang dimulai di Seattle dan dan terus mengambil tempat di kota-kota di segala penjuru dunia, dimana terdapat pertemuan-pertemuan IMF, Bank Dunia, WTO dan lembaga keuangan internasional lainnya, merupakan sebuah refleksi dari kemarahan banyak kaum muda dan kaum pekerja.

6. Apakah Ada Suatu Bentuk Masyarakat Lainnya yang Memungkinkan Diterapkan? Dan Apakah Pilihan Alternatif Dari Serikat Pelajar–Mahasiswa?
Serikat Pelajar–Mahasiswa (Sindicato de Estudiantes/Students–Union) selalu menerangkan bahwa di depan wajah kita terdapat suatu serangan dan eksploitasi dari kaum kapitalis pada suatu tingkatan internasional, untuk itu kita membutuhkan adanya suatu serangan balik melalui sebuah perjuangan internasional kaum pekerja dan kaum muda. Hal inilah yang mendasari mengapa selama tidak kurang dari 15 tahun dari keberadaan Serikat Pelajar–Mahasiswa kami, kami mempunyai dan mengorganiser kampanye–kampanye mengenai solidaritas internasional bekerjasama dengan organisasi-organisasi Pelajar–Mahasiswa sayap kiri dari Palestina, Afrika Selatan, Meksiko, Rusia dan Indonesia dan kami secara terus menerus mempertahankan ide-ide tentang internasionalisme.
Aksi-aksi protes di kota-kota dimana diadakannya pertemuan-pertemuan IMF dan lembaga kapitalis lainnya merupakan sebuah gejala dari adanya penentangan internasional atas kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil oleh kaum kapitalis dunia tersebut; namun jika kita menginginkan mengakhiri ketidakadilan ini, kita memerlukan adanya sebuah perjuangan internasional yang konstan dan kuat dengan adanya partisipasi dari gerakan-gerakan buruh yang akan membawa kearah revolusi transformasi bentuk kemasyarakatan.
Perjuangan tidak dapat dibatasi dengan hanya melakukan aksi-aksi protes melawan ataupun mengupayakan penghentian globalisasi atau lembaga-lembaga tersebut (seperti IMF, Bank Dunia, WTO, dan lain sebagainya). Tujuan utama kami yang harus dijalankan adalah mengambil alih dan mengakhiri bentuk–bentuk kapitalisme sebagai sebuah sistem, melalui nasionalisasi bank–bank dan perusahaan–perusahaan besar, pengambilaalihan kekayaan yang terpusat dikalangan multinasional, dan mempergunakannya untuk merencanakan perekonomian dunia, melalui sebuah jalan demokrasi dan dengan mengikutsertakan seluruh kalangan tertindas, karena upaya-upaya penyelesaian memerlukan banyak dan tidak sedikit keuntungan. Sebuah masyarakat sosialis yang murni (tidak seperti karikatur birokrasi yang gagal di Uni Soviet) adalah satu–satunya alternatif. Ini tidak saja merupakan suatu kemungkinan, namun juga merupakan suatu kebutuhan.
Perubahan radikal ini hanya dapat dibawa melalui sebuah gerakan revolusioner dari kelas pekerja (golongan yang sangat besar dan sangat kuat dalam masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menghentikan produksi dan melenjadikan kaum multinasional menjadi sangat lemah) yang memimpin seluruh golongan masyarakat lainnya, yang juga menderita akibat adanya penindasan oleh kaum kapitalis.

Sumber: Serikat Pelajar-Mahasiswa–-Students–Union-–Sindicato de Estudiantes.
http://www.arrakis.es

Tidak ada komentar:

Posting Komentar